Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Suara Karya, 29 Agustus 2000

Home | News Archives


Perpustakaan Sekolah Untuk Membuka Mata Hati Siswa


Solusi terbaik dalam membuka jalan pikiran seorang siswa, adalah dengan cara membaca. Agar siswa dapat membaca buku secara ajek, maka kepada mereka perlu disediakan bahan bacaan yang cukup. Oleh karena itu, perpustakaan merupakan wacana baca yang mampu menyediakan beragam buku baik fiksi nonfiksi, referensi, atau nonbuku seperti majalah, koran, kaset serta alat peraga, wajib dimiliki setiap sekolah.

"Sayangnya, belum semua sekolah baik SD, SLTP maupun SMU di Jawa Tengah mampu mengelola perpustakaan dengan lebih profesional dan terarah. Kondisinya bahkan boleh dibilang masih payah. Ini ancaman serius bagi masa depan peserta didik," ujar Kakanwil Depdiknas Jawa Tengah Drs Sudharto MA kepada Suara Karya, seusai memantau kegiatan SLTP Terbuka di berbagai daerah pekan lalu.

Keadaan tersebut, kata Sudharto, masih diperburuk oleh lemahnya budaya baca di kalangan guru. Logikanya, kalau guru saja sudah malas membaca, apalagi peserta didiknya. Terlebih lagi jika perpustakaan sekolah setempat pengelolaannya payah, maka lengkap sudah keprihatinan yang melanda dunia pendidikan.

Sudharto yang begitu peduli pada dunia pustaka itu lebih jauh mengemukakan, masalah perpustakaan sarlgat penting bagi kelangsungan proses belajar mengajar. Selain itu perpustakaan merupakan denyut nadi sekolah. Melalui perpustakaan, baik siswa maupun guru dapat menimba ilmu pengetahuan lewat buku-buku yang tersedia. Karenanya, sebagus apapun lembaga pendidikan tanpa didukung perpustakaan yang memadai, ia berada pada kondisi setengah hidup setengah mati.

Mengingat sedemikian pentingnya dunia pustaka bagi peserta didik dan guru, maka tidak mengherankan apabila dalam setiap kunjungannya ke daerah Sudharto akan merasa sangat kecewa jika melihat sekolah tidak memiliki perpustakaan. Atau kalaupun ada, hanya sekadar sebagai pemanis saja. Seperti ketika meninjau salah satu SLTP Negeri di Purbalingga, didapati ruang perpustakaan dipakai untuk ruang belajar. Koleksi buku pustakanya hanya sekadar ditaruh di meja dan almari. Semua berkesan asal-asalan. Situasi seperti itu menunjukkan betapa masalah perpustakaan masih dinomorduakan.

"Saya ingatkan, perpustakaan harus difungsikan sebagaimana mestinya. Pengadaan buku-buku bacaan harus diutamakan. Bagaimana pendidikan akan maju dan budaya baca meningkat, kalau perpustakaan saja tak ada," katanya.

Meski secara umum pengelolaan perpustakaan sekolah di Jawa Tengah masih payah, namun ada juga beberapa sekolah yang secara sungguh-sungguh mengelola perpustakaannya. Salah satu sekolah dasar (SD) di Jateng yang mampu mengembangkan perpustakaan secara profesional serta menyediakan bahan pustaka padat ilmu pengetahuan lebih dari yang diperlukan, adalah SD Negeri Getasrejo I Kabupaten Grobogan.

Kendati muncul dari desa yang terletak di jalur raya Purwodadi - Blora, perpustakaan sekolah yang berasal dari kota. Buktinya sejak 1996, perpustakaan SD Negeri Getasrejo I telah keluar sebagai juara I dalam lomba perpustakaan SD tingkat Jawa Tengah.

Kenyataan di atas menggambarkan, bahwa desa sebenarnya tidak selalu identik dengan ketertinggalan. Tertinggal secara materiil, sangat boleh terjadi. Tapi dalam olah pikir dan terapan ilmu pengetahuan, masyarakat dari kawasan pinggiran tidak bisa disepelekan begitu saja.

Perpustakaan SD Negeri Getasrejo I sendiri, menurut catatan Suara Karya, dibangun cukup megah dengan dana Inpres.pada tahun pelajaran 1993/1994. Suasana ruang yang ditata apik dengan pengaturan sirkulasi udara berwawasan lingkungan, menyebabkan perpustakaan di sini telah dianggap sebagai rumah kedua oleh para siswa.

Untuk mengimbangi tingginya minat baca dan pinjaman buku di kalangan mund, pihak sekolah ini terus memburu sumber koleksi bahan pustaka, baik kepada lembaga pemerintah, penerbit buku maupun perorangan. Di samping itu juga membudayakan peninggalan kenang-kenangan bagi murid kelas VI berupa buku bacaan.

Menariknya, seluruh komponen, mulai dari guru sampai penjaga sekolah di SD Negeri Getasrejo I dilibatkan aktif untuk mengelola perpustakaan. Dampak dari aktifnya seluruh komponen sekolah mengelola perpustakaan, terlihat dengan semakin dinamiknya kemauan membaca di antara siswa. Dalam konteks ini, perpustakaan SD terbukti sangat membantu mendorong dan mengembangkan minat kemampuan serta kebiasaan membaca yang pada gilirannya dapat membentuk sikap siswa untuk belajar mandiri. Yang dimaksud dengan membaca di sini bukanlah kepandaian membaca apa yang ditulis atau dicetak semata, melainkan suatu taraf kepandaian membaca guna memecahkan soal-soal ilmu pengetahuan.

Terhadap perpustakaan-perpustakaan sekolah yang telah dikelola secara profesional, Kakanwil Depdiknas Jawa Tengah Drs Sudharto MA, mengemukakan, supaya perpustakaan sekolah terlihat lebih efektif dalam membina kepentingan siswa, maka pengelolaan perpustakaan jangan hanya termotivasi dengan satu missi, yaitu gemar membaca.

Yang lebih penting, guru harus mampu mengukur daya tangkap siswa yang getol ke perpustakaan. Dan ukuran itu hanya bisa diketahui apabila guru berhasil membiasakan murid berbicara setelah membaca. Apakah jalan pikiran anak tersebut jadi terbuka, juga sangat bergantung pada kemampuan anak dalam berbicara di depan kelas setelah membaca buku di perpustakaan.

"Sedangkan kalau ingin lebih maju lagi, masing-masing sekolah yang memiliki perpustakaan harus bisa menyelenggarakan lomba membuat sinopsis ataupun lomba minat baca," tandas Sudharto.


©2000 InfoPerpus.