| Kompas, 29 Agustus 2000 | |
Pustakawan Utama Masih Langka |
|
| Pustakawan Utama merupakan jenjang profesi tertinggi yang masih langka diraih
para pustakawan Indonesia. Saat ini Indonesia baru mempunyai tiga orang Pustakawan Utama,
dua orang di antaranya sudah memasuki masa pensiun.
Hal ini diungkapkan Kepala Perpustakaan Republik Indonesia Hernandono dalam sambutannya pada acara pengukuhan Pustakawan Utama Drs John Pieter Rompas MA, di Jakarta, Senin (28/8). Adapun dua Pustakawan Utama sebelum John Pieter adalah DR H Sukarman Kartosedono MLS dan DR H Prabowo Tjitropranoto. "Pustakawan merupakan salah satu dari 69 jabatan fungsional yang sudah ada sejak 12 tahun terakhir. Dengan demikian, profesi di bidang kepustakawanan telah diakui, diperhitungkan dan dihargai seperti halnya profesi di bidang yang lain," katanya. Menurut Hernandono, untuk menjadi perpustakaan yang berkelas dunia, perpustakaan nasional harus ditunjang oleh dua pilar. Pertama adalah kemampuan pustakawan yang menjadi sumber daya manusianya. Kedua, koleksi perpustakaan yang memadai, terutama yang berkaitan dengan Indonesia. Saat ini perpustakaan nasional pusat mempunyai lebih dari satu juta koleksi yang terdiri beberapa unit media. "Termasuk di dalamnya koleksi naskah-naskah kuno dan terbitan lama. Untuk koleksi ini, kita bukan hanya bekerja sebagai pengumpul saja, tetapi juga mempersiapkan bagaimana masyarakat luas dapat mengakses sumber informasi yang kita miliki," jelasnya. Hernandono melihat, ilmu kepustakaan dalam empat dasawarsa telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Bahkan saat ini jurusan ilmu perpustakaan sudah dibuka di 15 universitas dari program diploma II sampai S-2. "Kita dapat melihat institusi, badan, lembaga, organisasi baik pemerintah maupun swasta telah dilengkapi dan diperkuat dengan perpustakaan, dokumentasi dan unit jasa informasi," ujarnya. Hernandono berharap agar pejabat fungsional perpustakaan di perpustakaan nasional dapat mengembangkan kemampuannya di bidangnya masing-masing secara seimbang. "Jadi, nantinya orang tidak hanya mengenal kepala perpustakaannya tetapi juga pejabat fungsional lainnya. Seperti peneliti di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), untuk bidang tertentu ada pakarnya," katanya. (mam) |
|
©2000 InfoPerpus. |
|