| Kompas, 23 Oktober 2000 | |
Buku Anak, Dunia yang Terlupakan |
|
| KETIKA mendengar cerita rakyat Lutung Kasarung, tanpa sadar nilai-nilai
internalisasi, nilai-nilai bahwa perempuan perlu seorang laki-laki untuk keluar dari
kesulitannya, tertanam. Orang-orang di belahan dunia Barat juga mengenal internalisasi
nilai-nilai tersebut melalui cerita Cinderella, sampai-sampai lahir istilah Cinderella
complex. Ketika cerita- cerita itu dibukukan dan buku itu oleh orangtua dibacakan atau
diberikan kepada anak-anaknya sebagai bahan bacaan pertama, pewarisan nilai-nilai itu
terus terjadi. Ini baru satu contoh saja. Banyak contoh lain bisa disebutkan.Buku adalah
jendela dunia dan jendela ilmu pengetahuan. Tak heran bila Prof Dr Fauwzia Aswin Hadis
dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), agak tak terlalu bergembira dengan
kualitas buku-buku cerita untuk anak-anak. "Kesan saya banyak yang belum memenuhi
syarat karena pengarang kurang kreatif, dan kurang menggali aspek kemampuan kognitif dan
intelektual pembacanya," kata Fauwzia.
Bukan cuma buku cerita yang tidak saja jumlah dan temanya pun miskin, jenis-jenis buku lain seperti buku puisi anak, buku sejarah perjuangan, buku-buku ilmu pengetahuan yang ditulis dengan cara yang menarik pun Indonesia sangat miskin. "Buku-buku tentang ilmu pengetahuan kan umumnya merupakan terjemahan," kata Dr Murti Bunanta, pengajar di Jurusan Sastra UI, dan pendiri Kelompok Pecinta Buku Anak. "Kita juga kekurangan buku puisi anak, padahal puisi bisa membantu mengajarkan estetika." Padahal, buku bisa merangsang anak mengembangkan kemampuan bahasa, mengembangkan logika, mengembangkan imajinasi anak, mengembangkan banyak nilai termasuk mengenal perbedaan. "Kita kekurangan buku yang bertutur tentang masyarakat kita yang multi-etnis. Padahal dengan membaca buku-buku tersebut, anak-anak bisa belajar adanya kelompok-kelompok masyarakat yang punya kebiasaan berbeda dengan dirinya," kata Fauwzia. *** BERBICARA tentang kegunaan buku, daftarnya bisa sangat panjang. Henny Supolo Sitepu, pendidik yang berkiprah di Perguruan Islam Al Izhar, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, mengutip teori multiple intelligence dari Howard Gardner, menyebutkan dalam diri manusia terdapat berbagai kecerdasan. Di antara berbagai kecerdasan itu adalah kecerdasan bahasa, logika/matematika, visual, musikal, kinestetik, pengenalan diri, pengenalan dan hubungan dengan orang lain, kecerdasan spiritual, dan banyak lagi. "Buku bisa mengembangkan berbagai kecerdasan tersebut," kata Henny. Dengan membaca buku, bukan cuma kosa kata anak bertambah, tetapi juga aspek intelektual lain dari anak. "Isi cerita, misalnya, bisa mengembangkan nilai hidup anak. Tokoh-tokoh dalam buku akan membuat anak lebih mengenal dirinya selain juga mengenal orang lain," tambah Henny. Selain itu, jalan cerita melatih logika anak, sementara ilustrasi buku mengembangkan pengamatan anak dan kecerdasan visualnya. Deretan kegunaan buku ini masih bisa diperpanjang dengan kemampuan berkomunikasi anak ketika anak lalu menciptakan dialognya sendiri berdasarkan imajinasi anak sendiri. Cukup banyak anak-anak yang lalu membuat komiknya sendiri dengan tokoh-tokoh dan dialognya yang merupakan hasil imajinasi anak. "Anak akan bertanya dan menjawab berdasarkan cerita tersebut atau bahkan mengubah jalan cerita mengikuti kesenangan hatinya dan boleh jadi akan mengubah akhir cerita sesukanya mengikuti perkembangan kreativitas anak," jelas Henny. Buku juga akan membawa anak berkelana ke alam yang dikehendakinya. Batasan-batasan yang mengekang kreativitas anak berdasarkan ruang dan waktu lenyap melalui buku. "Dan hal ini tentu saja melegakan," tambahnya. *** DENGAN sederetan kegunaan buku itu, lalu pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan kualitas buku anak-anak saat ini? Buku anak-anak sebetulnya sangat penting karena pengenalan terhadap buku sudah harus dilakukan sejak dini. Logika berpikir, selera anak terhadap bahasa yang baik, sudah harus diasah sejak dini melalui buku bacaan yang memadai kualitasnya. Tetapi, bagaimana membuat anak-anak tertarik membaca buku, bila buku cerita yang tersedia bertutur tentang dunia yang tidak akrab dengannya, terutama pada buku-buku cerita rakyat yang situasinya berbeda dari keadaan anak-anak sekarang, terutama yang tinggal di kota? "Kesan saya, buku cerita anak kita banyak yang berbau nasihat moral yang disajikan begitu saja. Pesan moral itu penting disampaikan, tetapi harus dibungkus dalam bentuk cerita yang menarik yang lebih membantu perkembangan kognitif anak," kata Fauwzia. Hal yang sering diabaikan dalam pembuatan buku cerita anak adalah bahwa buku cerita sebaiknya bisa dipakai dalam pelajaran sekolah. Misalnya, ketika guru menjelaskan tentang kejujuran dan gotong royong, guru tidak perlu membuat contoh sendiri, tetapi bisa mengacu pada buku cerita tertentu. Akan tetapi, buku cerita itu tidak menjelaskan tentang perlunya gotong royong dan kejujuran dengan telanjang. "Kebanyakan buku cerita kita akan mengatakan, 'Janganlah bersikap tidak jujur,' atau 'Makanya, jangan suka berbohong.' Itu kan membungkus pesan moralnya tidak canggih, jadi anak tidak tertantang mengembangkan daya kritisnya," tambah Fawzia. Hal lain yang memprihatinkan adalah buku cerita yang menggunakan hewan sebagai tokohnya. "Banyak buku menggunakan tokoh hewan yang dalam dunia nyata sebenarnya merupakan predator, misalnya kelinci dengan anjing, tetapi dalam buku digambarkan bersahabat. Begitu juga buaya yang menelan seekor kerbau, itu agak tidak mungkin. Ketika anak nantinya belajar biologi, bisa terjadi konflik di dalam diri anak," tutur Fawzia. Tema lain adalah penyelesaian masalah secara gampang, tanpa kerja. Cerita itu biasanya tentang seorang anak miskin yang jujur, lalu hidupnya senang karena misalnya, menemukan dompet atau harta karun. "Kejujuran penting, tetapi itu adalah bagian dari kerja. Jangan mengajarkan jalan pintas tanpa kerja," tandasnya. Begitu juga cerita rakyat yang setting-nya sudah berbeda dengan anak-anak sekarang. Dulu, cerita rakyat dibuat untuk menakut-nakuti anak dengan moral anak tidak terlalu jauh meninggalkan rumah karena dunia di luar rumah (hutan) berbahaya untuk anak. "Sekarang kita justru harus mengajar anak cepat independen, bisa naik bus sendiri dengan cara aman, menghindari tawuran, dan sebagainya. Tema-tema seperti ini kurang sekali," kata Fawzia. Sependapat dengan Fawzia, Murti Bunanta yang dihubungi terpisah mengatakan miskinnya tema cerita anak yang sesuai dengan keadaan anak. "Apakah kita punya buku cerita yang menuturkan bahaya narkoba, atau buku yang menceritakan perkembangan seksualitas anak? Misalnya tentang perasaan anak saat memasuki masa akil balik, ketika ia menghadapi perubahan dalam dirinya maupun bagaimana lingkungan melihat anak yang berubah menuju dewasa? Kan bisa dibilang tidak ada. Padahal saya membayangkan buku seperti ini disukai anak-anak yang ingin mengetahui keadaan dirinya," kata Murti Bunanta. Begitu juga buku sejarah, selalu memakai tokoh yang sudah ada, padahal akan lebih menarik bila memakai tokoh orang kebanyakan, anak-anak yang hidup dalam suasana perang. "Melalui buku, anak bisa diajak berpikir betapa tidak enaknya perang, dan bisa didorong untuk memikirkan mencari jalan untuk perdamaian," tambah Murti Bunanta. *** MENJELANG otonomi daerah yang tinggal beberapa bulan lagi, bisa dibayangkan bagaimana kesulitan yang mungkin dihadapi daerah pada saat awalnya. Fawzia yang sejak tahun lalu dilibatkan dalam proyek Departemen Pendidikan Nasional untuk pengembangan buku cerita untuk TK dan SD melihat upaya Depdiknas mengadakan lomba penulisan buku cerita untuk anak TK dan SD sebagai sangat positif. "Saya ingin daerah punya pemikiran yang sama, yaitu believe system masyarakat harus diubah," kata Fawzia. Ia mencontohkan, betapa pentingnya mengembangkan buku cerita anak oleh orang Indonesia sendiri karena buku itu akan berangkat dari keberagaman latar belakang budaya, sesuatu yang nyata ada di depan mata. Dengan buku-buku tersebut, anak-anak akan belajar bahwa ada orang lain yang punya kebiasaan yang berbeda dari dirinya dan anak-anak diajak memahami perbedaan itu. "Saya pernah mengajukan proposal penelitian untuk membandingkan keberagaman ini, tetapi ditolak karena katanya SARA. Karena sedikitnya pemahaman kita tentang hal lain di luar Jawa, kita tidak tahu bagaimana pandangan orang Gunung Kidul, bagaimana orang Ambon. Mungkin karena kita tidak kenal itu makanya kita sekarang ribut terus," kata Fauwzia. Masalahnya, bagaimana menyiasati keadaan di mana buku-buku yang ada seringkali tak memadai, sementara di sisi lain ada kendala daya beli pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Henny Supolo Sitepu mengungkapkan pengalamannya mengembangkan pendidikan di tempatnya bergabung, yaitu dengan mendorong anak membuat buku sederhana buatan sendiri. Ilustrasi bisa digunting dari majalah dan koran tua, berbagai kotak dan barang tak terpakai lagi, selain digambar sendiri oleh anak. Sedangkan penulisan cerita bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk menempel kata-kata yang digunting dari koran lama. "Dengan kegiatan ini sebenarnya kita semua memiliki potensi untuk membuat buku sendiri," ungkapnya. Akan lebih baik memang bila sekolah bisa melengkapi perpustakaannya dengan buku-buku karena membiasakan anak melengkapi tulisannya memakai referensi dari buku sangat penting. Bila melengkapi perpustakaan tidak mungkin dilakukan, menurut Henny sekolah perlu dengan jeli menggali potensi dari lingkungan. "Seberapa banyak sumber bacaan bisa didapat dari masyarakat sekitar?" kata Henny. "Atau, mungkin sudah waktunya melihat kemungkinan membuat buku sendiri dengan berbagai topik dan melalui berbagai media dan cara." (Ninuk MP) |
|
©2000 InfoPerpus. |
|