| Media Indonesia, 21 November 2000 | |
Banyak Komik Anak-anak Mengandung Pornografi |
|
JAKARTA (Media): Cukup banyak komik anak-anak asing yang mengandung unsur pornografi. "Komik yang tidak layak beredar di Indonesia ini antara lain Crayon Shincan karya seniman Jepang, Yoshito Usui. Ini cukup memprihatinkan kita. Sebab komik ini dikonsumsi anak-anak," kata Wahadiat dari Kelompok Pemerhati Moral Anak Bangsa yang tergabung dalam Klimaks kepada Media di Jakarta, kemarin. Menurut dia, komik asal Jepang yang di Indonesia diterbitkan PT Indorestu itu --yang tak mencantumkan alamat jelasnya di buku tersebut-- menceritakan perilaku seorang anak berusia lima tahun bernama Crayon Shincan yang amat nakal. Perilaku dan perkataannya tidak seperti teman sebayanya, bahkan sudah bertingkah laku seperti orang dewasa. Karakter Crayon di antaranya lucu, nakal, pembantah, tidak sopan, dan suka pada hal-hal yang porno. "Contoh perilaku yang sering dilakukannya adalah suka mengintip, memperhatikan bagian tubuh wanita, dan banyak lagi penyimpangan yang tidak semestinya dilakukan oleh anak seusianya," tukas Wahadiat. Klimaks sampai pada kesimpulan bahwa buku tersebut memuat kandungan pornografi yang cukup banyak setelah melakukan analisis. Seri pertama hingga keempat komik itu masih dikategorikan biasa-biasa saja. Baru pada seri tujuh dan selanjutnya sangat vulgar. Dalam hasil analisis yang dikirimkan kepada Media, secara rinci Klimaks memperlihatkan bagian-bagian dari isi komik tersebut yang menggambarkan perilaku menyimpang dari Crayon Shinchan dan mengandung unsur pornografi. Beberapa di antaranya, seperti Shinchan membayangkan wanita yang memakai bikini, memakai topeng dengan menggunakan bra milik ibunya, mulai membaca majalah Playboy, dan beberapa lainnya. Dari hasil analisis tersebut, Klimaks menyimpulkan komik itu tidak pantas diedarkan di Indonesia yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan mayoritas masyarakatnya masih memegang teguh nilai-nilai agama. Selain itu secara psikologis, karakter Crayon Shincan cukup besar dan kuat mempengaruhi anak-anak. Karena itulah, Klimak meminta agar pemerintah, dalam hal ini instansi terkait, agar segera mencabut izin peredaran komik tersebut. "Jadi jangan lagi beredar seri ke-8 yang mungkin lebih banyak unsur pornografinya," kata Wahadiat. Berdasarkan pantauan Klimaks, di beberapa toko buku di Jakarta yang sebelumnya menjual, komik tersebut kini tidak dipajang lagi. Mungkin mereka memang sudah menarik. Kendati begitu, di beberapa toko masih bisa tetap didapatkan asal sudah memesan terlebih dahulu. Wahadiat mengatakan, Klimaks juga bakal menyurati RCTI yang menayangkan cerita Crayon Shincan, setiap hari Ahad pukul 08.00 WIB agar berhati-hati dalam menayangkan episode kelanjutan dari yang sudah ditayangkan. "Memang dari analisis kami dari episode yang sudah ditayangkan belum menunjukkan hal-hal yang berbahaya. Tetapi, RCTI perlu berhati-hati meneliti episode selanjutnya agar jangan kebobolan," ujarnya. Pengamat cerita anak-anak Dr Murti Bunanta mengatakan jika benar komik Crayon mengandung unsur pornografi sudah sepantasnya dilarang beredar di masyarakat. "Meski saya sendiri memang belum melihatnya. Tetapi usulan Klimaks itu memang pantas didukung," ujar pengajar di Fakultas Sastra UI itu. (EA/B-1) |
|
©2000 InfoPerpus. |
|