| Jawa Pos, 21 Oktober 2000 | |
Kerinduan pada Buku-Buku Mandarin Terobati di Balai Sidang Jakarta |
|
Masyarakat Indonesia makin mencintai buku. Buktinya, Pameran Buku Ikapi 2000 di Balai Sidang Jakarta yang berlangsung hingga Minggu besok dipadati pengunjung. Dan, yang lebih dipadati adalah stan buku-buku Cina. SEORANG wanita berumur tampak serius membuka-buka buku sastra. Sesekali dia berbicara -dalam bahasa Indonesia- dengan suaminya yang juga sudah berambut putih. Dengan serius, mereka berbicara, membanding-bandingkan buku yang mereka baca. Pasangan kakek nenek itu tidak datang sendiri, melainkan bersama pasangan suami istri dan dua ABG. Semuanya membuka-buka buku bertulisan Kanji itu, termasuk kedua ABG yang sesekali bertanya kepada ibunya. Tjandra, seorang pengunjung yang asyik membuka-buka buku filsafat, mengakui bahwa kerinduannya pada buku-buku berbahasa leluhurnya seolah terobati dalam pameran ini. Pengusaha ban mobil penghobi membaca itu mengatakan, dulu dia hanya bisa membeli buku-buku berbahasa Cina bila sedang ke luar negeri, terutama ke Singapura, Hongkong, atau Cina. Tjandra mengakui, sudah dua kali mengunjungi stan buku-buku Cina yang terletak di hal depan Jakarta Convention Center, tempat berlangsungnya Ikapi Book Fair, itu. ''Saya tahu dari anak saya yang masih kuliah. Dia ke pameran ini hari pertama pameran,'' katanya. Tetapi, tidak semua pengunjung stan buku Cina itu berlatar belakang keturunan Tionghoa. ''Sejak hari pertama, yang berkunjung ke stan kami bukan hanya warga keturunan Cina, melainkan juga dari suku-suku lain,'' ujar Sultono, koordinator stan yang asli Jawa, tetapi fasih berbahasa Mandarin. Banyak juga mahasiswa yang sedang belajar bahasa Cina berkunjung dan berbelanja di stan tersebut. ''Kebanyakan dari Universitas Indonesia dan Universitas Darma Persada, yang memang terkenal fakultas sastra Cinanya,'' tambah Sultono. Selain itu, tampak sekelompok siswa berseragam Sekolah Pariwisata Trisakti. Sultono menceritakan pengalamannya ketika masih kuliah di Fakultas Sastra Cina Universitas Darma Persada, Jakarta. ''Dulu, sulit sekali mencari referensi. Kalau ingin memesan buku, kami memesan lewat kampus sehingga lebih mudah. Waktu itu kan buku-buku bertulis Cina dilarang di Indonesia,'' katanya. Stan buku Cina itu tidak bernama, hanya bertuliskan Books from China di sepanduk besar berwarna merah. Yang khas Cina adalah dipasangnya lampion-lampion besar asli dari Cina, selain tentu saja semua buku yang dipajang di situ bertuliskan huruf Kanji. Di stan sepanjang 10 meter itu, berjajar tiga rak panjang. Rak-rak itu terbagi beberapa kelompok buku, mulai buku anak-anak, kamus, dan pelajaran bahasa Cina -termasuk kasetnya-, sastra, ilmu pengetahuan, pengobatan tradisional, filsafat, masakan, hingga ilmu tenaga dalam. Buku filsafat dan petuah leluhur, tampaknya, paling dibuka-buka pengunjung. Semuanya dalam bahasa Cina ejaan Pin Yin yang digunakan resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). ''Bahasa Cina kan macam-macam. Tetapi, ejaan Pin Yin ini yang dipakai resmi,'' tambah Sultono. Dari seluruh kelompok buku itu, tidak ada satu pun yang sepi. ''Baru sekitar 3.000 judul yang kami impor,'' tambah Suryawan dari PT Interaktif Cerdas Bangsa yang mengimpor buku-buku tersebut. Di Cina, tambah Suryawan, setiap tahun diterbitkan ribuan judul buku. Untungnya, pemerintah mempunyi badan khusus yang mengoordinasi semua penerbit dari seluruh Dataran Cina. ''Karena itu, kami tidak terlalu sulit mengimpornya. Sebab, kami tidak perlu berhubungan satu per satu dengan penerbitnya. Cukup menghubungi badan pemerintah itu, minta dikirim judul-judul berdasarkan temanya, lalu kami pesan,'' tambahnya. Sejak pemesanan hingga tiba, pihaknya perlu waktu sekitar tiga bulan. ''Semua buku ini baru tiba seminggu sebelum pameran. Kami tentu saja sempat kalang kabut,'' ungkapnya. Begitu buku datang, harus dilakukan pendataan dan pengelompokan. Hal itu tidak mudah. Sebab, tiap buku bisa saja sulit dimasukkan kelompok buku yang mana. Selain itu, yang bisa mengelompokkan hanya mereka yang bisa membaca dan mengerti tulisan Cina. ''Padahal, tidak banyak karyawan yang bisa. Akhirnya, pemilik perusahaan, Pak Yoza Suryawan, dan anak istrinya pun turun tangan karena mereka mengerti tulisan Cina,'' kata Sultono. Buku-buku yang dijual di pameran kemarin memang khusus didatangkan untuk pameran Ikapi. ''Kami memang masih menjajaki animo masyarakat dan jenis-jenis buku apa saja yang diminati. Selanjutnya, kami akan mendatangkan lebih banyak judul,'' tambah Suryawan. Tadinya, pihaknya tidak berharap mendapat banyak kunjungan di pameran itu. ''Kami berpikir, pasti sepi nih,'' katanya. Ternyata, dugaan itu meleset. Sejak dibuka hari pertama 17 Oktober lalu, stan langsung dipenuhi pengunjung. Yang belanja pun tidak sedikit. Bahkan, ada yang memborong. ''Ada yang belanja sampai Rp 1 juta,'' kata Suryawan. Buku-buku yang dijual di stan itu memang tidak bisa dibilang murah. Rata-rata ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tetapi, ada juga buku yang seharga Rp 14 ribu-Rp 50 ribu. Misalnya, buku anak-anak atau buku pelajaran bahasa Cina tingkat dasar. ''Tetapi, dengan kualitas yang sama, kami berani bilang buku-buku yang kami jual tidak lebih mahal dibandingkan dengan buku-buku impor dari negara lain. Misalnya, harga kamus bahasa Inggris-Cina terbitan Oxford sekitar Rp 200 ribu. Bandingkan dengan kamus Oxford serupa dalam bahasa lain yang lebih mahal,'' ujarnya. Sambutan masyarakat itu juga tecermin pada beberapa pesanan buku yang datang. Beberapa pengunjung tidak menemukan judul buku yang dicarinya sehingga memesan kepada PT Interaktif. ''Nanti kami pesankan dari Cina. Dan, masih banyak lagi judul yang kami impor,'' tambah Suryawan. Melihat sambutan masyarakat yang cukup baik, pihaknya bersemangat melanjutkan rencana membuka stan khusus buku-buku berbahasa Cina di Toko Buku Gunung Agung. ''Biar gampang bagi masyarakat yang ingin membeli. Untuk membuka toko sendiri, belum memungkinkan,'' ungkapnya. |
|
©2000 InfoPerpus. |
|