| Kompas, 20 Oktober 2000 | |
Jadikan Membaca dan Buku sebagai Kebutuhan |
|
| Tak ada cara yang lebih efektif untuk menggairahkan bisnis perbukuan di dalam
negeri, selain menjadikan kebiasaan membaca koran, buku, atau majalah sebagai kebutuhan
masyarakat. Juga tak ada argumentasi yang merangsang kita untuk menertawakannya, ketika
banyak orang mengatakan masyarakat kita sungguh tidak memiliki cukup uang yang bisa
dipakai untuk membeli koran, majalah, dan tentu saja buku guna memuaskan hasrat dan
keinginannya menambah informasi dan pengetahuan.
Demikian dikemukakan Ketua Pelaksana Harian Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Leo Batubara kepada peserta simposium bertajuk Book Publishing in Indonesia (Industri Perbukuan di Indonesia), di Jakarta, Kamis (19/10). "Kalau data paparan praktisi hukum Henry Yosodiningrat selaku Ketua Granat berani menyebutkan ada duit sedikitnya Rp 47 trilyun telah dikonsumsi masyarakat untuk merokok dalam setahunnya-sementara jumlah uang yang dipakai untuk memberi koran hanya Rp 1,9 trilyun menurut data tahun 1998-apakah kita masih berani mengatakan, masyarakat kita tidak punya uang untuk membeli koran atau buku," tegasnya. Menurut Leo, dari angka-angka itu bisa disimpulkan, sebenarnya masyarakat punya uang untuk membeli koran, majalah, dan buku. "Namun, masalahnya apakah kita sadar akan pentingnya menumbuhkan kesadaran sekaligus kebutuhan mereka akan koran dan buku. Tegasnya, apakah kita mampu menjadikan buku sebagai demanded need (kebutuhan yang diinginkan) mereka atau tidak?" jelas Leo Batubara. Persoalan lainnya, tambahnya, maukah pemerintah segera menghapus pajak pertambahan nilai (PPN) yang hingga kini masih diterapkan pada usaha penerbitan buku. "No tax on knowlegde (jangan ada pajak untuk hal-hal berkaitan dengan upaya menambah pengetahuan), itu kalau pemerintah tegas ingin membantu proses mencerdaskan bangsa ini lewat koran, majalah, dan buku," tandasnya. (ryi) |
|
©2000 InfoPerpus. |
|