Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Kompas, 20 Oktober 2000

Home | News Archives


Setitik Air dalam Kehausan: Pameran Buku Ikapi


MAAFKANLAH Ati. Dia tak mau menjawab berbagai pertanyaan, bahkan sambil menyentakkan tubuhnya, perempuan itu begitu saja berlalu. Sempat dibawanya kecurigaan, jengkel, dan beberapa patah sungut di balik wajahnya berkacamata. Untuk membalik-balik buku yang dibelinya di pameran buku Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) 2000 di Jakarta itu, ternyata tak mudah bagi Ati.

Berdiri di pintu samping masuk ke arena pameran, sambil menunggu teman, semula Ati berharap dapat melihat sepintas kilas buku yang bertajuk Umrah dan Haji di tangannya. Akan tetapi, walaupun buku itu sudah terbentang di mukanya, berbagai macam orang datang kepadanya; sekejap bertanya soal itu, sekejap soal ini, sekejap dirayu beberapa penjaja sebuah produk. Belum lagi saling senggol dengan pengunjung lain. Juga wartawan, alamak!

Ati datang ke pameran yang berlangsung sampai 22 Oktober itu dengan cara "mencuri" waktu. Ia gunakan jam istirahatnya sehingga harus bergegas pulang ke kantor. Namun, ia merasa tak nyaman menikmati pameran tersebut, apalagi untuk merenungkan sesuatu.

Ati adalah salah seorang pengunjung pameran buku Ikapi yang sempat diamati Kamis siang (19/10) itu. Pengunjung lain masih banyak, bahkan Gedung Jakarta Convention Centre (JCC) Hall A, tempat kegiatan ini berlangsung, hampir saja sesak. Berkisar pukul 10.00-13.00, tak kurang dari 20.000 orang telah mengunjungi pameran yang dibuka Wakil Presiden Megawati itu.

Pengunjung tersebut terdiri atas berbagai sosok. Ada yang berombongan seperti anak-anak sekolah mulai taman kanak-kanak (TK) sampai sekolah menengah umum (SMU). Tak sedikit pula di antara mereka adalah kalangan profesi, mahasiswa, dan entah apa lagi.

"Kalau saya, penganggur," kata Sigit (25) asal Solo, yang sejak lima tahun terakhir senantiasa ulang-alik Jakarta-Solo.

***

KEBERADAAN Ati dan pengunjung pada umumnya itu merupakan suatu gejala yang dalam pameran buku Ikapi dirasakan cukup langka. Maka tak berlebihan kalau wakil ketua panitia pameran ini, Robinson, menabur harapan, ''Semoga sampai akhir pameran, kegiatan ini banyak dikunjungi-begitu juga pada pameran-pameran mendatang.'' Robinson mengaku, pameran buku yang dilaksanakan sebelumnya tidak begitu menggembirakan walaupun hanya dipandang dari segi pengunjung. Hasilnya, Ikapi senantiasa dikeluhkan penerbit-penerbit yang mengikuti kegiatan tersebut. Untung saja, mereka masih memiliki semangat kerja sama. Dengan demikian, walaupun mengeluh, penerbit-penerbit itu senantiasa ikut dalam pameran buku yang dilaksanakan Ikapi.

Banyak sebab mengapa pameran ini tak lagi ''miskin'' pengunjung. Dipublikasi cukup luas -bekerja sama dengan berbagai media massa cetak- disebutkan juga potongan harga buku sampai 70 persen. Tempat yang dipilih untuk pameran ini juga bergengsi dan belum pernah dilaksanakan Ikapi sebelumnya, tetapi tak asing bagi pameran mobil dan perumahan. Belum lagi peserta yang ikut cukup banyak, yakni 120 penerbit termasuk, 10 penerbit dari luar negeri seperti Singapura dan Cina. Beberapa penerbit juga menyelenggarakan acara jumpa pengarang.

Makin menjadi gejala langka jika dikaitkan pengunjung tersebut dengan kenyataan perbukuan Indonesia yang selama ini disebut gelap; miskin pembaca karena minat baca yang amat kurang, bahkan miskin segala-galanya, termasuk sikap pemerintah yang sampai kini tak pernah memenuhi jeritan penerbit seperti penghapusan pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN). Keberadaan pengunjung itu laksana setitik air dalam kehausan.

''Kami baru habis ujian, ya, lebih baik ke sini untuk menyegarkan otak dengan sesuatu yang bermutu,'' kata Anggi Restu, siswa SMU 35 Jakarta. Tak jauh berbeda dengan Anggi, Sigit mengaku mencari buku pertanian. ''Saya memerlukan buku-buku Islam. Saya senang dengan buku-buku agama,'' kata Ati di sisi lain.

Buku agama, anak-anak, dan buku petunjuk praktis soal sesuatu, memang mendominasi pameran ini. Bentuknya pun bermacam ragam. Akan tetapi, harus hari-hati juga karena pengelompokan buku tampaknya memang masih payah. Jangan membayangkan hal-hal yang aduhai ketika melihat ada pampangan tulisan sastra atau novel.

Di Gramedia Pustaka Utama, misalnya, sastra itu semacam identik dengan NH Dini karena hampir separuh dari rak buku yang berlabel sastra adalah buku wanita pengarang itu. Di penerbit lain, bahkan buku sastra bercampur dengan sebagian besar kamus dan buku ilmu gizi

***

JANGAN cepat-cepat mengatakan bahwa penyelenggara kegiatan ini dapat untung karena pengunjung itu. Ikapi masih saja menyubsidi peserta pameran. Sebagaimana dikatakan Robinson, tempat pameran harus dibayar sekitar Rp 800.000 per meter, sementara pihaknya hanya menarik paling tinggi Rp 450.000 per meter dari peserta.

Terlepas dari itu semua, wajar kalau Sigit dan Anggi bertanya, apa bedanya pameran ini dengan penjualan buku di mal atau toko-toko buku. Artinya, suasana jual beli masih membekas di tengah cita-cita Ikapi menjadikan pameran ini lebih mengarah kepada dunia pemikiran yang luas. Ada undian, bonus, transaksi penjualan, dan orang yang menawarkan barang jajaannya di selasar, memanglah tak dapat dibantah sebagai suasana pasar.

''Potongan harga yang diberikan rasanya sama saja dengan di toko-toko buku,'' kata Sigit, seraya menambahkan, ia cukup sukar menemukan buku yang katanya memberikan potongan harga sampai 70 persen. Dia menemukan buku yang harganya dipotong 50 persen, tetapi bahan bacaan tersebut ternyata terbitan yang cukup lama. Buku itu pun tidak pula susah dicari, bahkan mungkin sudah banyak dimiliki orang lain.

Tak berlebihan pula kalau Ikapi dituntut mendemonstrasikan proses pembuatan buku, bahkan memamerkan naskah kuno Indonesia. Dengan demikian, setidak-tidaknya orang tahu bahwa membuat buku tidak semudah membacanya.

''Mudah-mudahan kita bisa lakukan hal itu pada pameran mendatang,'' janji Robinson.

Sebuah janji haruslah ditepati. (Taufik Ikram Jamil)


©2000 InfoPerpus.