Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Suara Pembaruan, 11 Januari 2002

Home | News Archives


''Memetics'' dan ''Surveillance'' dalam Transformasi Sosial


Oleh Redi Panuju

Istilah memetics atau meme diperkenalkan oleh Richard Brodie (1996) untuk menggambarkan peran informasi dalam transformasi sosial-budaya. Brodie menganalogkan informasi seperti halnya gen dalam sel hidup manusia yang bisa membiak dan mengalami evolusi. Sukses meme digambarkan seperti juga sukses evolusi genetik, yang meliputi tiga hal, yakni usia sepanjang-panjangnya (longevity), tersebar seluas-luasnya (fecundity), dan berketurunan seasli-aslinya (copying fidelity).

Saat media informasi telah berkembang begitu pesat, ketika masyarakat begitu mudah memperoleh informasi dan menjadi sasaran ''tembak'' informasi, proses memetics juga berlangsung sangat cepat. Para ahli komunikasi yang tertarik pada masalah ''adopsi dan inovasi'' sangat meyakinkan bahwa terpaan informasi sangat berpengaruh terhadap percepatan transformasi sosial. Dalam banyak kasus, proses meme ini tidak selalu berjalan selaras, sebab proses meme banyak juga yang melewati jalur ketegangan (cognitive dissonance).

Dalam layar televisi, pada gambar dan teks surat kabar, ataukah kata-kata melalui gelombang radio, sering kali bersifat kontradiktif dengan pemahaman, nilai, pola pikir (mind-set), maupun tradisi masyarakat pemakainya. Di sini jelas terjadi guncangan psikologis, kultural, bahkan juga menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial. Sebaliknya, jika informasi bersifat signifikan dengan harapan-harapan, pengalaman, maupun referensinya, mempunyai potensi makin menguatkan eksistensi sosial yang ada.

Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimanakah wajah media sekarang ini? Melalui teori memetics, dapat ditarik satu hipotesa bahwa hitam-putihnya media mempunyai potensi menggiring transformasi sosial yang sama. Hipotesis itu dikuatkan lagi dengan beberapa teori yang mendukungnya. Dalam pendekatan S-R (stimulus- respons) dikenal istilah pengondisian (conditioning), artinya bahwa eksistensi individu dan sosial (mulai dari sikap, pemikiran, selera, preferensi, sampai perilakunya) bisa dibentuk oleh penetrasi informasi yang terus-menerus.

Media dan Komunikan

Demikian juga dengan pendekatan agenda setting media, informasi melalui media massa diyakini merupakan produk dari penyeleksi media (gate keeper) yang memiliki kompetensi mengetahui apa-apa yang dianggap penting atau urgen oleh masyarakat. Jadi, apa yang dianggap penting, media juga mempunyai arti penting bagi masyarakat (komunikan). Karena itu, pengambil keputusan di lingkaran pemerintah juga merasa cukup hanya menengok media untuk mengetahui apa yang terjadi di masyarakat. Media massa menjadi referensi elite pemerintah dalam menentukan keputusan-keputusannya. Maka, bila isi media menyesatkan, punya kemungkinan menghasilkan kebijakan publik yang menyesatkan pula.

Kita tidak bisa gegabah dengan mengatakan, efek media sebenarnya kecil dalam mempengaruhi perilaku sosial, sebab individu di masyarakat sendiri memiliki mekanisme selektif untuk menentukan seseorang terpengaruh atau tidak oleh suatu informasi. Dalam pendekatan psikologi dikenal istilah perhatian selektif (selective attention). Memang ''teori'' itu sering dipergunakan oleh pihak media massa untuk membela diri dan menjadi alasan untuk meluaskan pengertian ''kebebasan informasi''.

Namun, kita sering menafikan asumsi yang melatarbelakangi teori tersebut, hanya efektif bekerja bila terpenuhinya beberapa kondisi, seperti kredibilitas media di mata masyarakat sedang berada di bawah, individu dalam masyarakat umumnya mempunyai kesadaran kognitif yang tinggi sehingga bisa meresponss media secara evaluatif, dan saluran komunikasi (seperti organisasi sosial politik) cukup berwibawa dalam fungsi artikulasi kepentingan masyarakat. Ketiga hal tersebut boleh jadi juga menjadi saluran lain yang membuat publik mengalihkan perhatiannya dari media yang lain.

Sejak gerakan reformasi digulirkan akhir tahun 1998 hingga sekarang, kondisi-kondisi sosial seperti yang digambarkan di atas cenderung tidak terbentuk, sebaliknya posisi media massa justru makin dominan dan kuat (powerful) meskipun dari segi teknik jurnalistik, validitas informasi yang disampaikan media massa belum bisa dikatakan valid (benar-benar terjadi), adil (cover both sides), dan akurat (sesuai realitas), tetapi karena saluran sosial dan politik belum bisa menjadi saluran alternatif (bahkan kreadibilitasnya juga tak kalah jeblok-nya), maka media massa menjadi saluran satu-satunya menjalani proses memetics.

Di samping itu, masyarakat kita juga belum selesai menikmati euforia kebebasannya setelah selama pemerintahan Orde Baru kebebasan ekspresinya merasa dipasung. Media massa dengan kebebasan informasinya itu betul-betul melayani sekaligus mewakili publik dalam memenuhi kebutuhan mengekspresikan kebebasannya. Dalam situasi demikian, kekritisan tidaklah penting, sebab respons publik terhadap informasi cenderung ditempatkan dalam ranah afeksi, bukannya kognisi informasi baru sebatas dinilai oleh emosi dan belum dinilai melalui nalar sehat.

Karena itu, sensasi menjadi unsur yang memiliki nilai jual tinggi bagi media. Fenomena sosial yang ditransformasikan melalui media cenderung mengalami reduksi, sehingga kehilangan substansi. Fakta sekadar menjadi bingkai sensasi. Reportase terpatah-patah, berpindah-pindah secara cepat untuk menghindari kebiasaan, maka publik pun seperti menikmati sebuah gambar dari lukisan abstrak, atau mozaik dari tempelan peristiwa terpenggal. Solusi dan ending dari fakta yang disampaikan sering tidak jelas. Dan publik menerima itu sebagai suatu keniscayaan.

Tanpa sadar, media massa sebenarnya menggiring publik untuk menikmati kegembiraan di atas potret keadaan yang kabur, semu, dan terpenggal. Media mungkin juga tak sadar bahwa situasi seperti ini sering dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan sosial-politik yang mempunyai kepentingan membangun opini publik atau mereka yang berkepentingan membelokkan head-line pemberitaan untuk menyelamatkan diri (fire breaking), atau media sadar benar hal itu tetapi justru menikmati permainan karena dengan demikian sensasi tidak berhenti begitu saja.

Membangun Kesadaran Kritis

Saya hanya ingin menegaskan bahwa dalam proses memetics semacam itu, transformasi sosial sangat tidak kondusif untuk membangun ''masyarakat komunikatif'' seperti yang dicita-citakan oleh Jurgen Habermas. Masyarakat komunikatif, menurut Habermas, harus memenuhi asas klaim kebenaran (truth), klaim ketepatan (rightness), klaim kejujuran (sincerety), dan klaim komprehensibilitas (comprehensibility).

Dalam masyarakat komunikatif, terdapat kesadaran kritis pada masing-masing pihak, baik komunikator maupun komunikan. Komunikator harus menghindari penggunaan rasio sebagai alat untuk mendominasi dan menguasai pihak komunikan (rasionalitas-kognitif-instrumental), sedangkan komunikan harus menghindari respons fatalistik, yang begitu saja menyerahkan total makna kebenaran kepada komunikator. Menurut Habermas, masyarakat harus dibangun kesadaran kognitifnya melalui trans- formasi informasi yang ''benar''.

Joseph R. Dominick (1993) menyampaikan kecenderungan fungsi media Amerika menjadi dua tipe. Tipe pertama yang disebut beware surveillance, yakni fungsi media sebagai pemberi peringatan kepada publik (warning) mengenai situasi dan kondisi yang mengancam seperti konsistensi memberitahukan meletusnya gunung, depresi kondisi ekonomi, kejahatan besar, memburuknya inflasi, serangan militer.

Konsistensi media massa memberitakan kecelakaan kereta api sehingga sedikit banyak memberi tekanan moral kepada direksi PT KAI dan akhirnya mengundurkan diri, bisalah dipandang sebagai kecenderungan ke arah itu. Tetapi, secara metodologi diperiksa dengan pertanyaan, apakah tragedi kereta api itu merupakan puncak tragedi? Jangan sampai pem-blow- up-an kecelakaan kereta api menutup kelanjutan pem-beritaan tentang kasus Tommy Soeharto, Bulloggate II, dan kasus besar lain yang menyangkut pembobolan bank oleh elite politik ter- tentu.

Tipe kedua disebut instrumental surveillance. Media massa menginformasikan hal-hal yang dapat menolong (helpful) dan penuh kegunaan (useful) individu dalam kehidupan sehari-hari. Acara-acara talk-show dan kuis yang berbasis ilmu pengetahuan sudah banyak dilansir televisi maupun surat kabar. Tetapi, bila dibandingkan dengan tayangan yang mendorong sikap konsumtif dan peniruan gaya hidup (style of life), mana yang lebih berwibawa? Memetics informasi kita membuat transformasi sosial terkontaminasi atau sebaliknya seperti madu yang manis, kiranya membutuhkan kejujuran kita bersama untuk mengakuinya.

Penulis adalah pengajar pada program Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Dr Soetomo Surabaya.


2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com