Koran Tempo, 29 Juni 2001 |
|
Antara Dunia Anak dan Buku Sastra |
|
* Dr. Murti Bunanta, SS. MA Dunia anak-anak dan buku adalah dua hal yang selalu memukau Murti Bunanta. Keduanya memberi inspirasi pada setiap langkah hidupnya. Pendiri Kelompok Pencinta Buku Anak ini berharap suatu saat akan ada buku-buku sastra anak yang bukan saja menghibur, tapi mampu menjawab keingintahuan anak-anak akan kehidupan. Ada kenangan manis yang tak mudah dilupakan Dra. Murti Bunanta, SS. MA. Saat ia berusia lima tahun, ibunya seringkali mendudukkannya di meja makan. Lalu membacakan pelbagai kisah dongeng baik yang tradisional maupun dongeng dunia. Saat itulah Murti kecil mulai jatuh cinta pada buku. Saat ia dewasa dan mengambil Fakultas Sastra Belanda di Universitas Indonesia, kecintaannya pada buku semakin menggebu. Tapi kenangan manis masa kecillah yang membuatnya memilih bidang sastra anak-anak sebagai garis pengabdiannya. Saat mengambil gelar kesarjanaan itu pula Murti langsung memilih topik "Konflik Rumah Tangga dalam Bacaan Anak-anak Belanda di tahun 1982" sebagai skripsinya. Dalam skripsi tersebut ia mencoba mengurai bagaimana anak-anak Belanda mengungkapkan konflik yang menimpa keluarganya. "Lewat bacaan, mereka berhasil mengungkapkan apa yang terjadi dalam rumah tangga tanpa mesti berkata secara eksplisit bahwa ayah dan ibu saya bercerai'," katanya. Anak-anak buat Murti Bunanta adalah sosok yang murni dan penuh keingintahuan. Ia menilai lewat bukulah orang dewasa bisa menanamkan nilai-nilai luhur secara lebih efektif. "Lewat sastra, anak-anak bisa lebih mendapatkan bacaan yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan masalah umat manusia pada umumnya, budi pekerti, arti penting kerja keras, empati, juga artistik. Sastra anak adalah bacaan yang berkualitas baik isinya, desain, atau warnanya," kata Murti Bunanta. Karenanya wanita kelahiran Semarang 1946 ini sempat menjadi sorotan saat kasus komik Crayon Shincan mencuat beberapa waktu lalu. Bersama Kelompok Pencinta Buku Anak yang dipimpin dan didirikannya sejak 1987, Murti termasuk orang pertama yang mempertanyakan kepantasan komik yang meledak di pasaran ini untuk dikonsumsi oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun. Saat itu Doktor pertama dari Universitas Indonesia di bidang sastra anak-anak ini sempat berbicara dengan pihak penerbit. "Tapi karena awalnya tak ada tanggapan, maka kami menggunakan media massa. Rupanya ini kemudian ditanggapi para orang tua," ujar ibu dua orang anak, Ir. Andreas Bunanta, MBA dan Dra. Agatha Bunanta, MBA ini. Ia merasa bersyukur bahwa kemudian keprihatinannya ini mendapat tanggapan dengan pemasangan label batas usia bagi pembaca komik ini. "Saya sendiri sebenarnya moderat terhadap soal kenakalan anak dalam kisah buku. Kenakalan anak adalah hal yang wajar. Tapi ketika isinya sudah berisi sinisme, sarkasme dan tidak lagi memenuhi kriteria yang baik sebagai bacaan anak-anak, orang tua mesti waspada," tuturnya. Memilih buku yang baik untuk anak memang hal yang gampang-gampang sulit. Ini diakui Murti Bunanta. "Karena melalui buku yang dibaca, anak mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh yang ada dalam cerita," ujarnya menjelaskan. Sulitnya membuat dan mencari buku yang baik buat anak-anak inilah yang pernah dituangkannya dalam disertasi doktoralnya pada 1997 berjudul "Problematika Penulisan Cerita Rakyat untuk Anak Indonesia". Istri Drs. TS. Bunanta ini, kini memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi buku mencapai sekitar 25 ribu judul yang berasal dari 35 negara. Uniknya ia tak hanya mengkoleksi jenis buku fiksi. Ada buku-buku non fiksi di antara koleksinya. Salah satu buku bacaan untuk anak tingkat sekolah dasar dalam koleksinya adalah mengenai cara membuat arang. "Ya, saya juga membaca buku anak-anak non fiksi seperti ini. Ini juga bahan penelitian saya mengapa buku-buku seperti ini kurang mendapat perhatian anak-anak." Lewat tiga organisasi yang dipimpinnya yaitu Kelompok Pencinta Buku Anak, Society for the Advancement of Childrens Literature, dan Indonesian Board on Book s for Young People, ketiganya didirikan pada 1997, Murti dan rekan-rekannya banyak melakukan kegiatan seputar buku dan anak-anak. "Kami mendongeng untuk anak-anak, membuat lokakarya penulisan buku anak, seminar dan sebagainya." Intinya Murti dan kelompoknya ingin menciptakan kecintaan anak-anak akan buku sastra. "Sastra anak yang baik tidak harus berkesan berat, tebal dan tua sehingga membuat anak-anak merasa terbebani untuk membacanya," kata Murti. Selain melakukan penelitian terhadap buku-buku sastra anak, Murti dan kelompoknya juga menerbitkan sejumlah buku dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang rencananya akan diluncurkan tahun ini. Ada satu buku sastra anak karya Murti Bunanta yang telah diterbitkan pada 1997, berjudul Si Bungsu Katak dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Buku ini di tahun yang sama mendapat penghargaan internasional berupa Polandia The Janusz Korzcak International Literary Prize. Dosen di Jurusan Sastra Perpustakaan Fakultas Sastra UI ini cukup dikenal di dunia sastra anak internasional. Pada 1992 hingga 1996 ia bertugas sebagai anggota Komite Eksekutif International Board on Books for Young People, yang berkedudukan di Basel, Swiss. Dilanjutkan pada 1997-1999, Murti menjadi anggota juri internasional lomba ilustrasi dunia BIB (Biennale Illustration Bratislava). Lalu masih pada 1999, Murti terpilih lagi menjadi juri internasional lomba ilustrasi buku anak di Iran. Sebelumnya berturut-turut pada 1993, 1994, 1995, Murti juga terpilih menjadi juri internasional Asahi Shinbun Reading Promotion Award. Hingga saat ini Murti Bunanta juga masih tercatat sebagai anggota berbagai organisasi sastra anak-anak internasional Pengalaman Murti Bunanta tentang sastra anak internasional menjadi bahan saat ia menyusun tesis untuk program magister di program Amerika pada 1986 dengan judul Mark Twains Adventures of Huckleberry Finn: A Consideration of Racism and Audience. Murti mengamati, sebenarnya di Indonesia cukup banyak sastra anak yang bermutu yang bisa dikonsumsi anak-anak. Murti menunjuk karya Poppy Donggo, Suryadi Pak Raden atau kisah lama yang masih digemari seperti Si Doel Anak Betawi atau Beni Merindukan Bulan. Karya terjemahan yang cukup bagus dan bisa menjadi acuan para orang tua, menurut Murti adalah buku-buku karya Catherine Patterson. "Buku sastra anak-anak yang baik adalah yang menceritakan sesuatu tapi tidak langsung pada pokok persoalan. Di Indonesia ini sebenarnya banyak cerita rakyat yang baik yang bisa dipilih," kata Murti. Selain buku dan anak-anak ada hal lain yang menarik perhatian Murti Bunanta. "Saya suka dengan hal-hal yang berbau tradisional Indonesia. Maka saya lebih banyak memilih kayu sebagai materi desain rumah," kata Murti. Memang di rumah Murti yang asri terlihat seperangkat wayang golek, dan kerajinan kayu khas Indonesia. Wanita yang menguasai bahasa Inggris, Belanda dan Jerman ini berharap satu saat akan banyak muncul penulis buku sastra anak di Indonesia yang bermutu. "Bermutu bukan berdasarkan struktur isinya saja, tapi juga gambar, warna dan desainnya," katanya. Lebih jauh ia juga berharap buku-buku ini kelak bukan hanya digemari anak-anak Indonesia, tapi juga dikenal oleh anak-anak di dunia. "Akan sangat membanggakan jika dunia bisa mengerti oh, ini lho karya sastra anak Indonesia dari kisah-kisah tradisionalnya," kata nenek satu cucu yang selalu menyempatkan diri mendongeng untuk cucunya ini. utami |
|
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|