| Suara Pembaruan, 26 Juli 2001 | |
Perpustakaan Nasional Jangan Disakralkan |
|
Menteri Pendidikan Nasional demisioner Yahya Muhaimin meminta agar perpustakaan nasional yang mempunyai peran penting dalam menyimpan, melestarikan, dan memberdayakan catatan sejarah anak bangsa, termasuk peristiwa politik yang terjadi sekarang ini harus segera dibuat dokumennya. Meskipun begitu, karena fungsinya menyimpan catatan sejarah penting, bukan berarti gedung perpustakaan nasional harus disakralkan sehingga menakutkan dan tidak komunikatif dan rekreatif bagi masyarakat yang memerlukannya. Masyarakat merasa perlu menggunakan fasilitas dan koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan nasional termasuk perpustakaan lain di bawah binaan Perpusnas, jangan sampai masyarakat takut memasuki gedung yang megah ini, ujarnya seusai melantik Drs Dady P Rachmananta MLIS sebagai Kepala Perpusnas yang baru di Jakarta, Senin (23/7). Sebelum menjabat sebagai Kepala Perpusnas, Dady P Rachmananta menjabat sebagai Kepala Direktorat Deposit Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas. Dia menggantikan Hernandono. Pelantikan sesuai dengan Keppres RI Nomor 185/M Tahun 2001. Pelantikan tersebut terjadi beberapa jam sebelum Kabinet Gus Dur dibekukan presiden terpilih Megawati Soekarnoputri. Hadir pada acara itu Dirjen Dikdasmen Dr Indra Djati Sidhi. Saya harapkan di masa depan, peran Perpusnas harus tetap menjadi media yang komunikatif dan rekreatif. Promosi dan publikasi kepada masyarakat akan keberadaan Perpusnas harus tetap dipertahankan. Visi dan misi mengenai lembaga ini di masa depan tetap harus berpihak kepada kepentingan masyarakat, tukasnya. (E-5) |
|
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|