| Koran Tempo, 22 Juni 2001 | |
Kepedulian Untuk Taman Bacaan Anak Yessy Gusman |
|
Ada yang dipikirkan Yessy Gusman Tjakra MBA, SH ketika menyaksikan dua anak laki-lakinya tumbuh. Pengetahuan Javan (14) dan Cherro (9), ia amati, kian berkembang. Ia berpikir anak-anaknya yang bersekolah di Global Jaya itu punya keberuntungan mendapatkan fasilitas perpustakaan di sekolahnya, sehingga bisa leluasa membaca. Bagaimana dengan anak-anak tak mampu? Artis 39 tahun ini juga mengenang keberuntungannya kuliah di Golden Gate University, AS. "Kampus saya tidak besar, tapi perpustakaannya lengkap sekali," kata Yessy menyebut perbedaan itu sangat besar dibanding fasilitas perpustakaan sewaktu kuliah jurusan hukum di Universitas Pancasila. Melihat kondisi yang kontras itu, timbul niatnya mendirikan taman bacaan anak-anak yang bernama Namira, di lingkungan tempat ia tinggal, pada 1999. "Dengan membaca kita dapat kepuasan batin," kata Yessy yang dulu populer sebagai bintang film pada awal 1980-an. Ibu yang suka membaca dan traveling ini bersyukur tidak kesulitan mencari lokasi untuk dikontrak. Ia mendirikan Taman Bacaan Anak (TBA) yang dibuat senyaman mungkin, dihiasi karpet, dengan interior warna-warna cerah, fasilitas tape recorder untuk mendengar lagu anak-anak yang sedang populer. Buku yang tersedia, antara lain buku-buku cerita, pengetahuan umum, sosial, buku agama dan ilmu pengetahuan dasar. "Sayangnya, lokasi historis pertama ini tidak aman dari banjir, terpaksa pindah tempat," kata nominasi aktris terbaik dalam Festival Film Indonesia 1981 lewat film Usia 18. Di TBA itu Yessy menggaji pembimbing yang berpendidikan SMU namun punya kemampuan mendidik dan sayang anak-anak. Pembimbing itu bekerja Senin sampai Jumat mulai pukul 09.00-12.000 dan 13.00 sampai 16.00. "Saya menunggu uluran dari para ahli dalam bidangnya, untuk mengajarkan anak-anak membaca dan menceritakan ulang apa yang telah dibaca," kata Yessy yang telah bekerjasama mendatangkan para pelukis dan penyair untuk mengajar berpantun. Setelah TBA di lokasi Kalibata itu berdiri, setahun kemudian bermunculan TBA lain seperti, TBA Javan, di Kemiri Muka, Depok dan TBA Cherro di Ragunan, Pasar Minggu. Nama kedua TBA ini diambil dari kedua anaknya. Selanjutnya berdiri TBA susulan di beberapa tempat antara lain TBA Nina di Pancoran Barat, TBA Dave di Jalan Buncit Raya, TBA Irwan di Buaran, Klender, TBA Michelle, di Pasar Induk Beras, Cipinang, TBA Johan Mirza di H. Saibun, Jati Padang, TBA Siti Rohaidah, di Lenteng Agung dan TBA Taruna, di Jalan Bangka, Pela Mampang yang tempatnya disediakan oleh Karang Taruna wilayah itu. Penamaan di TBA itu ada juga yang berasal dari keluarga yang mau berpartisipasi dan memberi nama anak-anaknya. Yessy merasa berterima kasih dengan peran media yang membantu menyebarluaskan berita mengenai taman bacaan itu, sehingga banyak pihak yang membantu dan suka rela memberikan donatur untuk membeli buku. "Banyak yang menyumbang untuk bank buku, dari penerbitan besar, masyarakat, Depdiknas bagian pembukuan, kantor pemuda dan olahraga. Alhamdulillah, saya sudah lama tidak belanja buku," kata Yessy yang pernah jadi Kepala Customer Service Bank Duta dan Private Banking Manager pada 1991 itu. Ia menilai, dengan kepeloporan itu membawa hal positif berupa dukungan dari para penyumbang. Selama ini mereka punya kesamaan visi, namun terbentur waktu untuk merealisasikannya. "Mereka pikir banyak hambatan, untuk membuat TBA sendiri, nyatanya mudah. Hambatan itu ada pada diri sendiri," kata Yessy yang mengaku baru menyanggupi untuk mendirikan TBA hanya di Jakarta. "Kalau di luar kota perlu kemitraan atau kerjasama," ujar Yessy. Dalam perkembangannya, buku-buku itu tidak hanya dinikmati oleh anak-anak, melainkan juga oleh para orangtuanya. Misalnya, soal membuat kue, alternatif mencari nafkah. Selain itu, bisa dimanfaatkan menitipkan anak di saat orang tua bekerja. Yessy menerapkan sistem rotasi untuk buku-bukunya yang didului dibaca di TBA pusat, Namira, baru ke TBA lain yang didirikan belakangan. Sistem ini efektif untuk menghindari biaya mahal untuk pembelian buku. Di TBA itu ia juga menerapkan disiplin dan tata tertib saat membaca buku yang termuat di tembok masing-masing, seperti tidak boleh dibawa pulang, tidak boleh bawa tas, tidak boleh berebutan, harus menjaga kebersihan dan dilarang makan serta minum. "Ini milik bersama, sekali disiplin itu diruntuhkan maka akan terus menerus," ujar perempuan bernama asli Yasmine Yuliantina Gusman itu. Apa yang telah ia berikan itu, menurutnya, merupakan wujud perhatiannya karena ia merasa selama ini sudah diberikan kelebihan. "Anak-anak harus diisi otaknya, saya mau anak-anak tidak kalah dengan yang lebih mampu membeli buku," kata Yessy yang setelah menghilang, kembali main dalam sinetron komedi produksi Karnos Film, Kau di Atas Aku di Bawah. Berkumpul dengan anak-anak di taman bacaan, melepaskan kerinduan pada dunia anak, adalah kesenangannya. "Sejak lama saya suka dunia anak-anak," kata Yessy yang pernah menjadi guru taman kanak-kanak Widuri, Jakarta Selatan itu, profesi yang ia lakukan sambil menunggu pengumuman kelulusan di SMA. Lucunya, pada 1993 ketika ikut program sarjana di Universitas Pancasila, jurusan hukum, mantan anak muridnya ternyata sama-sama kuliah di sana. "Ia bilang, masih ingat tidak, waktu itu ia sakit dan pakai jaket dengan tutup kepala," kenang Yessy yang mendapat predikat Cum Laude untuk gelar sarjana hukum di Universitas Pancasila itu. Sehari-hari, di luar aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga dengan dua orang anak, Javan dan Cherro, hasil pernikahannya dengan Okky Tjandra, Yessy berkantor di Purnama Jaya Global, yang juga sekretariat TBA, di Jl. K.H. Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Di tempat itu, Yessy masih menyempatkan menyalurkan hobi sejak kecil, melukis. "Ibu saya sering menyertakan gambar-gambar itu untuk surat pada para penggemar saat masih main film," kata Yessy. Hobi melukis itu sempat terhenti waktu ia hamil. Beberapa tahun lalu ia serius belajar melukis di Kemang. "Saya jadi lebih bisa mandiri setelah kursus itu," kata Yessy yang punya aturan sendiri untuk melukis. "Aliran saya imajinasi bebas. Sehingga, daun itu tidak harus hijau, bisa warna hitam atau merah. Justru dengan melukis, orang harus mendapatkan kebebasan, saya tidak mau dilarang-larang dengan suatu pakem," tutur Yessy. Ketika usianya bertambah dan anak-anaknya sudah mandiri, Yessy berniat menekuni hobinya melukis. "Sekarang ini, anak-anak masih perlu pengawasan. Lihat saja tadi, anakku pertama, ada jerawat satu menyempatkan telepon dan memberitahu Mamanya," kata Yessy sambil tertawa. evieta |
|
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|