| Bali Post, 21 Juni 2001 | |
Ratna Sari Dewi Ingin Bangun Perpustakaan |
|
ADA keinginan janda mantan Presiden Soekarno, Ratna Sari Dewi, yang terpendam. Dia ingin membangun memorial library/perpustakaan Soekarno. Keinginan itu akan diwujudkan kelak apabila Megawati Soekarnoputri menjadi presiden. Penegasan itu dikemukakan Ratna Sari Dewi kepada wartawan di Istana Gebang Jalan Sultan Agung Blitar, Rabu (20/6) kemarin. ''Saya pikir, Mbak Mega, akan setuju. Saya siap menyediakan tanah untuk membangun perpustakaan kenangan itu,'' katanya. Menurutnya, pihaknya akan menyerahkan tanah kepada Rachmawati yang juga adik kandung Megawati, yang akan menanganinya. Sebab, Rachmawati saat ini menjadi Ketua Yayasan Universitas Bung Karno. Tentang ketidakharmonisan hubungan antara Megawati dan Rachmawati, ia mengatakan, hal itu hanya kekhawatiran situasi politik di Indonesia. Tetapi ketidakharmonisan hubungan kakak beradik ini segera sirna, karena yang bersangkutan sama-sama satu ibu dan satu bapak. Ratna Sari Dewi juga mempertanyakan mengapa pada Sidang Umum MPR 1999 di Indonesia terjadi isu gender, yang tidak membolehkan seorang wanita menjadi presiden. Padahal, katanya, di negara Islam seperti di Bangladesh dan Pakistan tidak mempersoalkan pemimpin wanita. ''Mengapa di Indonesia yang juga mayoritas penduduknya wanita mempermasalahkan wanita jadi pemimpin ketika itu,'' kilahnya. Menyinggung tentang PKI, Ratna Sari Dewi membantah keterlibatan Bung Karno. Ia mengaku pernah mengkonfirmasikan masalah itu kepada Kolonel Latief. Saat itu, Latief mengatakan sama sekali tidak ada keterlibatan Soekarno dengan PKI. Makam Tentang isu akan dipindahkannya makam Bung Karno dari Blitar ke Istana Batu Tulis Bogor, ia menyatakan, permintaan itu justru datang dari Soekarno sendiri. Namun, ia sangat menyadari hal itu tidak mungkin dilakukan karena makam Bung Karno tidak hanya milik keluarga, tetapi milik bangsa Indonesia, khususnya rakyat Blitar. Karena itu, kata Sari Dewi, soal makam akan dipindahkan atau tidak serahkan saja kepada DPR. ''Biar DPR yang memutuskan. Sebab, kalau tetap di Blitar, sangat jauh. Sementara bila dipindah ke Batu Tulis Bogor tentunya rakyat Blitar tidak setuju,'' ujarnya. Sementara itu, peringatan haul Bung Karno kemarin tampak dihadiri Rachmawati, Sukmawati, Guruh Soekarnoputra, Guntur, Ratna Sari Dewi, pejabat tingggi negara, 12 duta besar, serta ribuan lainnya. Haul Bung Karno sejak pagi hingga sore kemarin juga diwarnai oleh pawai sepeda motor pendukung Megawati keliling kota Blitar. (059) |
|
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|