Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Koran Tempo, 20 Juli 2001

Home | News Archives


Pesta Buku IKAPI Jakarta


Pengunjung Menurun, Pendapatan Menaik

KORAN TEMPO , Jakarta: Kini, Pesta Buku tahunan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jakarta telah menginjak tahun kedelapan sejak diadakan pertama kali pada 1994. Bertempat di Istora Senayan, Jakarta, pesta ini berlangsung dari 14-22 Juli. Meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya melibatkan sekitar 94 penerbit, kali ini jumlah penerbit mencapai 105 dengan jumlah stand 156.

Kegiatan yang menyertai pameran tahun ini juga meningkat. Setiap hari selalu diadakan kegiatan, misalnya lomba sempoa dan aritmatika pada 20 Juli, tenda buku, lomba mewarnai dan lukis serta diskusi bedah buku Tafsir Fizhilalil Quran pada 21 Juli, dan di hari penutup, berlangsung tenda buku, temu pengarang Intan Savitri yang menyertai peluncuran novel barunya, dan lomba teka-teki silang.

Pun masing-masing penerbit yang melakukan kegiatan khusus. Misalnya Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Sejak hari pertama, mereka menggelar jumpa artis dan penulis, antara lain Irgi A. Fahrezi (pemeran Tan Soen Bie dalam film Ca Bau Kan) yang novelnya diterbitkan KPG dan P. Project, sebagai penulis komik Si Lender pada 20 Juli. Dilanjutkan temu muka dengan P-Project, Lola Amaria (pemeran Tinung dalam Ca Bau Kan), dan Remy Sylado (penulis novel Ca Bau Kan) pada 21 Juli, dan Irgi A. Fahrezi dan P-Project di hari terakhir.

Untuk jumlah pengunjung, pihak IKAPI yang diwakili Herni Soeseno, Seksi Acara Pengerahan Massa dan Lomba, belum bisa ditentukan sebelum menginjak hari terakhir. "Kalau tahun lalu, pada hari terakhir kira-kira mencapai seratus ribu orang, tapi kami memang belum pernah mendata jumlah pengunjung," kata Herni.

Sama dengan tahun lalu, pameran buku IKAPI selalu jatuh pada pertengahan bulan. Soal pemilihan tanggal ini, baik Herni Soeseno maupun Drs. H. Bakri Yunus, Ketua IKAPI Jakarta, mengaku tidak ada kesengajaan. "Ini lebih dikarenakan jadwal kosong yang disediakan pihak Istora jatuh pada tanggal tersebut, tak ada kesengajaan sama sekali," kata Herni.

Selain itu, menurut Bakri Yunus, pihaknya sebelumnya ingin mengadakan pameran pada awal Juli. "Selain bertepatan dengan liburan sekolah, juga saya khawatir dengan isu dekrit pada tanggal 20 Juli. Tapi, ternyata kekhawatiran itu tak terjadi," kata Badri.

Pemilihan tanggal ini cukup disayangkan karena tidak bertepatan dengan liburan sekolah. Tentu saja, hal ini memberi pengaruh terhadap jumlah pengunjung. Menurut Lukas Noor, Kepala Seksi Pengembangan Pasar Gramedia Pustaka Utama, jumlah pengunjung tahun ini cukup sedikit ketimbang tahun lalu.

Hal ini juga dirasakan Budi Riyanto dari Bagian Pemasaran Yayasan Obor Indonesia. "Jika dibandingkan tahun lalu yang setiap hari bisa meraup Rp 6 juta, tahun ini mungkin menurun," kata Budi Riyanto.

Kendati demikian, KPG mengalami peningkatan penjualan. Menurut Aris Wartono dari KPG, mereka setiap hari bisa meraup Rp 2 juta per hari ketimbang tahun lalu yang hanya Rp 1,5 juta per hari.

Menipisnya jumlah pengunjung ini di luar prediksi sebagian besar penerbit. Sebagian besar penerbit mengaku lebih banyak mengeluarkan jumlah buku yang dipamerkan dibanding tahun lalu. Yayasan Obor, misalnya, tahun lalu hanya mengeluarkan 400 judul, sedang tahun ini menjual sekitar 600 judul buku. Sementara, KPG menjual 53 judul dibanding tahun lalu yang hanya sekitar 40-an judul buku.

Untuk Elex Media Komputindo, menurut Emanuel Laras Husodo, Kasie Pemasaran Dalam Kota, mereka memamerkan sekitar seratus judul. Sedangkan bagi Mizan, menurut Amri Subchan, koordinator pameran ini, mereka menjual 500 judul buku umum dan 300 judul buku anak-anak.

Pada pesta buku kali ini, masing-masing penerbit memberikan potongan harga variatif, berkisar antara 10-70 persen. Untuk kelompok Gramedia, diskon rata-rata 10-20 persen. Sementara Yayasan Obor mencapai harga paling murah seribu rupiah. Demikian juga untuk Mizan yang menjual stok-stok lama dari harga Rp 3 ribu sampai Rp 7 ribu, seperti buku karangan Eep Saefulloh Fatah dan Amien Rais.

Sedang untuk jenis buku yang laris, rata-rata lebih ke buku-buku yang menjadi spesialisasi penerbit tersebut. Misalnya, untuk Elex Media Komputindo, komik dan buku komputer lebih mudah terjual. Untuk Yayasan Obor, buku sastra menduduki peringkat teratas, sementara KPG untuk komik Si Lender sudah terjual 85 eksemplar di hari keenam. Sedang GPU untuk buku-buku psikologi, sementara Mizan hampir merata di semua jenis buku.

Bagi sebagian besar penerbit, keuntungan finansial memang tidak menjadi prioritas yang mereka cari dalam pameran, melainkan lebih sebagai ajang promosi. Bagi GPU, keuntungan finansial yang diperoleh jauh lebih sedikit ketimbang penjualan biasa melalui toko-toko. "Karena kita kan harus mempertimbangkan membayar penjaga stand dan harga sewa, apalagi kalau mereka harus lembur," kata Lukas Noor dari GPU.

Untuk tahun ini, Gramedia total menyewa 24 stand yang berlokasi di dalam gedung utama Istora yang harganya jauh lebih mahal ketimbang stand yang ada di koridor luar. Untuk stand ukuran yang sama dengan luas 3 x 4 meter, di dalam gedung utama, bisa mencapai harga Rp 325 ribu per hari, sedang yang di koridor Rp 300 ribu per hari.

Pameran buku tahun ini diperkirakan mencapai puncak keramaian kunjungan di hari terakhir yang jatuh pada akhir pekan ini. f. dewi ria utari


©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com