| Republika, 13 Juni 2001 | |
Perpustakaan DPRD Surabaya yang Terabaikan |
|
Di bagian belakang kantor DPRD Kota Surabaya di Jl Yos Sudarso terdapat ruangan berukuran 8 x 10 meter. Cukup bersih tempat itu dengan jendela kaca yang cukup besar warna hitam di bagian depannya. Sementara itu di bagian dalam, berderet buku tertata rapi di atas rak. Itulah Perpustakaan DPRD Kota Surabaya. Sebagai ruang perpustakaan, di ruangan ini terdapat berbagai koleksi buku yang meliputi buku-buku produk hukum, tata pemerintahan kota dan desa, politik, sosial, dan ekonomi. Bukan hanya itu, perpustakaan ini juga menyimpan berbagai kliping yang berkaitan dengan sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo pada zaman penjajahan dahulu. Di ruang ini pula terdapat klipingan berbagai masalah yang sudah terjilid rapi, yang menyangkut masalah-masalah rakyat Surabaya. Ini menyangkut persoalan yang sudah terselesaikan DPRD dari mulai 1971 sampai sekarang. "Penjilidannya dilakukan sesuai standar klasifikasi arsip dan data," kata Sekretaris DPRD Surabaya Ida Bagus Made Surem, SSos, kepada Republika, pekan lalu. Menurut Bagus, perpustakaan ini juga berlangganan sejumlah koran dan majalah untuk menyajikan informasi terkini. "Koran dan majalah itu juga kita jilid dengan rapi, sehingga masyarakat yang membutuhkan tulisan-tulisan informasi itu, bisa datang ke sini," paparnya. Sebelum menempati ruangan gedung DPRD di bagian belakang, perpustakaan ini dulu berada di lingkungan Kantor Pemkot Surabaya di Jl Jimerto. Tapi kini, selain bangunannya cukup megah, tempat ini cukup sejuk lantaran dilengkapi AC. "Masuk ke Perpustakaan DPRD Surabaya dijamin kerasan, karena ruangannya sejuk," kata Bagus sedikit berpromosi. Hanya saja sayangnya, meski koleksi-koleksinya sudah banyak, selain ruangannya sudah sejuk, tempat ini tak banyak dikunjungi orang. Jarang masyarakat Kota Surabaya yang datang di ruang perpustakaan ini. "Banyak orang datang ke dewan, tapi urusannya lebih sering mengadu dan aksi demo," kata Bagus. Keengganan masyarakat datang di perpustakaan ini, kata Bagus, juga terjadi pada anggota dewan sendiri. Diakuinya, mamang ada orang yang datang ke perpustakaan ini. Namun umumnya mereka melakukan penelitian. Seperti halnya yang terjadi belum lama ini, ada sejumlah mahasiswa dari Universitas Airlangga (UNAIR) dan Universitas Putra Bangsa (UPB) yang melakukan penelitian. Merananya Perpustakaan DPRD Surabaya ini agaknya bisa dimaklumi. Ruang ini kurang strategis karena berada di belakang kantor dewan. Sehingga tak banyak orang yang melintasi ruangan ini -- termasuk para tamu-tamu dewan. Terlebih lagi ruangan perpustakaan tersebut tidak diberi nama, seperti halnya ruangan lainnya milik fraki, komisi, ketua, atau wakil dewan. "Lihat saja di depan pintu tidak ada nama kalau ruangan ini perpustakaan. Jadi wajar saja setiap orang yang lalu-lalang di depan ruangan dengan tak acuh," kata Soefie, seorang karyawan Perpustakaan DPRD. Diakui Soefie, Perpustakaan yang ia juga ini memang belum memiliki koleksi banyak buku. Hingga kini masih tercatat sekitar 2.248 buah buku yang ada di dalamnya. Namun, sejak 1997 lalu jumlah koleksi buku terus mengalami meningkatan hingga 80 persen setiap tahunnya. Selain itu, perpustakaan ini hanya mendapat anggaran Rp 3 juta/tahun. Jumlah ini sangat minim. "Bila dilihat dari perkembangan buku yang terus meningkat, jelas dana tersebut masih jauh dari tingkat kebutuhan. Mudah-mudahan pada tahun-tahun mendatang Perpustakaan yang memiliki fungsi mencerdaskan rakyat ini ditambahi dana untuk pengadaan buku," harap Bagus. rosdiansyah |
|
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|