| Kompas, 9 Agustus 2001 | |
Banyak Faktor Membuat Harga Buku Mahal |
|
Masih rendahnya minat baca masyarakat juga disebabkan oleh harga buku yang relatif mahal. Namun mahalnya harga buku tersebut bukan karena penerbit ingin mendapatkan margin yang besar, tetapi karena banyak faktor yang menyebabkannya. Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Arselan Harahap, saat membuka Pameran Buku Surabaya 2001, di World Trade Center, Rabu (8/8). Pameran buku ini akan berlangsung sampai tanggal 13 Agustus 2001. Menurut Harahap, mahalnya harga buku juga disebabkan pemerintah mengenakan pajak. "Padahal di negara mana pun di dunia, buku tidak kena pajak. Hanya di Indonesia buku dikenakan pajak. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan program pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat," kata Harahap. Ongkos kirim mahal Selain itu, pemerintah juga mengenakan tarif pengiriman buku sama dengan pengiriman barang lainnya. "Ongkos pengiriman sering kali lebih mahal dari harga buku itu sendiri. Akibatnya, harga buku ketika jatuh ke konsumen jadi mahal sekali. Seharusnya pemerintah memberikan tarif khusus untuk pengiriman buku ini," ujar Harahap. Ditegaskannya, harga buku tidak bisa diserahkan ke mekanisme pasar begitu saja. "Jadi kalau harga buku mahal, bukan berarti penerbit ingin untung besar, tetapi banyak faktor yang membuatnya demikian. Harus ada perlakuan khusus bila memang budaya baca ingin ditingkatkan," tandas Harahap. Sementara itu Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Erlangga Satriagung yang membuka pameran tersebut mengatakan, pemerintah dan Ikapi sebagai mitra pemerintah untuk meningkatkan minat baca, harus segera mengubah strategi upaya peningkatan minat baca. (arn) |
|
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|