Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Kompas, 9 Juni 2001

Home | News Archives


Lebih dari 400 Judul Buku Koleksi Soekarno Melapuk


Bengkulu, Kompas

Pada saat di Jakarta dan sejumlah daerah di Tanah Air sedang gegap gempita peringatan 100 tahun kelahiran Bung Karno, di Kota Bengkulu kini justru terjadi kondisi menyedihkan. Sedikitnya, 400 judul buku koleksi Presiden pertama RI itu sekarang dalam keadaan memprihatinkan, bahkan terancam hancur.

Ratusan buku yang sangat bernilai sejarah itu kini tersimpan di sebuah rumah di kawasan Anggut Atas, Bengkulu. Rumah yang dibangun tahun 1916 ini masih asli, menjadi tempat kediaman Bung Karno selama pengasingan di Bengkulu antara tahun 1938 sampai 1942.

Di tengah tidak terawatnya buku-buku Bung Karno tersebut, malah banyak masyarakat setempat dan juga para pelancong sangat ingin untuk membaca buku-buku itu. Namun, hal itu tak bisa dikabulkan karena belum ada duplikasinya. Apalagi semua buku itu belum diterjemahkan.

"Buku-buku tersebut sudah melapuk, bahkan ada yang sudah rusak berat. Untuk menyelamatkan buku-buku yang sangat bernilai tersebut, perlu kurator khusus untuk memeliharanya atau dibuatkan duplikatnya dalam bentuk fotokopi atau dalam bentuk lain," kata Darwis Andrian kepada Kompas, Jumat (8/6), di Bengkulu. Darwis adalah pegawai Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Departemen Pendidikan Nasional Bengkulu, yang sejak 16 tahun lalu menjaga bekas rumah kediaman Soekarno itu.

Buku-buku koleksi Soekarno itu tersimpan dalam dua lemari kaca yang terkunci. Buku tersebut seluruhnya berbahasa Belanda dan meliputi bidang kesenian, politik, agama, sastra, dan kesehatan. Kondisi buku memprihatinkan. Ada kertas isinya yang sudah melapuk, hancur, dan kulitnya copot. Lemari penyimpanan buku ini tidak dilengkapi bahan pengawet, sehingga di sana tampak banyak rayap merusak buku-buku tersebut.

Darwis mengatakan, buku itu adalah sisa dari 12 peti buku-buku koleksi Soekarno. Sejak Bung Karno meninggalkan Bengkulu menuju Padang, saat tentara Jepang sudah berada di Lubuk Linggau menuju Bengkulu, nasib barang-barang peninggalkan Soekarno, termasuk buku-buku koleksinya, tak jelas lagi.

"Buku-buku yang terpajang di rumah kediaman di pengasingan ini adalah yang sempat diselamatkan Abdul Manaf (meninggal tahun 1997 dalam usia 86 tahun-Red) teman dekat Soekarno. Buku-buku itu disuplai secara sembunyi-sembunyi oleh Abdul Manaf, yang waktu itu agen Panji Islam di Bengkulu. Soekarno tak bisa membeli langsung, karena diawasi ketat oleh Belanda," ungkap Darwis.

Tidak ada biaya

Menurut Darwis, meski sudah dinyatakan sebagai cagar budaya, kondisi rumah bekas kediaman Soekarno ini tetap memprihatinkan. "Sejak tahun 1985 tak ada biaya rutin pemeliharaan seperser pun, apalagi untuk memperbanyak buku-buku tersebut," tambah dia.

Kini dibutuhkan donatur yang bersedia menyelamatkan buku-buku tersebut, termasuk mencari ahli bahasa Belanda guna menerjemahkannya, sehingga isinya bisa dibaca oleh generasi penerus bangsa. Diungkapkan, Kepala Arsip Nasional pernah dua kali berkunjung ke bekas rumah kediaman Soekarno. Kondisi buku-buku koleksi yang memprihatinkan juga disampaikan, tetapi tak ada tanggapan.

"Mudah-mudahan ada donatur, lembaga atau yayasan yang berminat menyelamatkan dan memperbanyak buku-buku ini. Sebab, beberapa kali orang Belanda mengincar buku-buku tersebut, namun pihaknya tak mengizinkan, kecuali kelak sudah ada duplikatnya yang bisa dibaca," jelas Darwis.

Ia melukiskan, semasa Soekarno, setiap ruangan penuh dengan buku, selain di ruang perpustakaan. Setiap buku diberi label, sedang dibaca, telah dibaca, dan akan dibaca. Sedang yang bisa dipinjam teman-teman Soekarno waktu itu adalah yang sudah selesai dibaca. (nal/zul)  


©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com