| Koran Tempo, 2 Agustus 2001 | |
Projek Idealis Bedah Buku di Layar Kaca |
|
KORAN TEMPO , Jakarta: Di tengah booming sinetron dan tayangan hiburan lain, Metro TV menawarkan acara Book Review yang hadir setiap Minggu pukul 09.30 WIB. Padahal, di jam yang sama, beberapa stasiun televisi justru menayangkan film anak-anak dan acara musik. "Terus terang ini proyek idealis," ungkap Iwan Kurniawan, produser acara ini kepada Koran Tempo, Rabu (1/8). Iwan sadar, acara ini tak mudah dijual untuk mendatangkan iklan seperti tayangan musik atau sinetron. Makanya, dilakukan berbagai langkah tak lazim. Misalnya menempatkan Book Review di jam tayang Minggu pagi agar tampil lain ketimbang acara di stasiun lain. Sasarannya adalah pemirsa penggemar buku kalangan ekonomi atas yang di jam itu bisa menonton sambil menikmati teh di teras. Langkah itu juga termasuk syuting di QB Book Store, sebuah toko buku di bilangan Jakarta Pusat yang bekerja sama memasok buku yang akan dibedah. Sejak diatayangkan pertama kali Mei 2001, Rieke Diah Pitaloka dipilih untuk memandu acara ini. Pihak Metro TV menimbang Rieke cukup memenuhi syarat untuk memandu tayangan yang bersifat menghibur dan mendidik ini. Rieke lulusan Sastra Belanda UI yang akan mengambil program S2 ilmu filsafat. Dia juga gemar membaca. Tapi, respon dari pemirsa datang ke Metro TV mengomentari penampilan Rieke yang dianggap kurang bisa mengimbangi nara sumber. "Kebanyakan kritik membangun. Kami terima dengan senang hati karena kami sadar satu presenter punya kapasitas tertentu untuk membedah buku dari berbagai ilmu," tutur Iwan. Metro TV mengambil langkah baru dengan menambah presenter lagi, Mayong Suryolaksono dan Andreas Harefa, yang bergantian tampil dengan Rieke. Buku-buku populer seperti novel Supernova menjadi jatah Rieke. Sedangkan Mayong kebagian episode yang mengangkat seputar buku sastra dan nonfiksi. Buku ekonomi digarap oleh presenter Andreas Harefa yang juga dikenal sebagai penulis beberapa buku ekonomi. Sejatinya, acara membedah buku bukan ide orisinil Metro TV. Sebelumnya, TVRI sempat mengudarakan acara sejenis dengan dengan tajuk Dunia Pustaka. Acara ini bukan sekedar membedah isi buku, tapi juga menggali sisi lainnya. Misalnya, soal perpustakaan keliling di desa-desa, minat baca kalangan muda, atau bagaimana sorang penulis menorehkan karyanya. "Pokoknya acara ini lebih bervariasi, bukan sekedar mewawancarai penulis," kata Imas, Humas TVRI yang juga sempat menjadi presenter acara ini selama dua tahun. Semenjak ditayangkan TVRI pada 1980, berbagai presenter bergantian memandu acara ini. Toeti Adhitama, salah satunya. Penyiar kawakan TVRI ini sempat mengikuti keseharian Sutan Takdir Alisjahbana dan mengorek keterangan bagaimana penyair angkatan pujangga baru ini mendapatkan ide penulisan. Luasnya lingkup garapan acara ini memungkinkan Imas, misalnya, mewawancarai seorang bocah berumur 6 tahun asal sebuah desa di jalur Pantai Utara Jawa Tengah. Bocah lelaki ini punya hobi membaca di atas kerbau yang digembalakannya. Buku itu dipinjam dari perpustakaan keliling yang ada di desanya. Namun, sebagus apapun acara ini, sejak April 2000 acara ini hilang dari jadwal TVRI. "Saya kurang tahu apa sebabnya. Padahal acara ini sangat mendidik dan informatif sekali," kata Imas mengeluh. |
|
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|