| Kompas, 1 Agustus 2001 | |
Cukup Menggembirakan, Gairah Penerbitan di Luar Jawa |
|
Sebenarnya gairah penerbitan buku di daerah, khususnya di luar Jawa, cukup menggembirakan. Cuma saja, pengelolaan penerbitan secara profesional-termasuk kesan sebagai penerbit-memang patut dibina secara terus-menerus. Dengan demikian alam intelektual lokal dapat dikembangkan secara lebih memadai. Hal itu dikatakan Ketua Urusan Hubungan Dalam Negeri dan Pemberdayaan Anggota Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat, Setia Dharma Madjid, dalam kegiatan sosialisasi Program Pustaka Adikarya Ikapi dan Buku Bermutu, Selasa (31/7), di Pekanbaru. Tampil juga berbicara adalah Pelaksana Program Pustaka Yayasan Adikarya Ikapi Jakarta, Yulia Himawati. Setia Dharma mencontohkan kegairahan penerbitan itu di Pekanbaru dan Pontianak. Di kota yang terakhir ini, demikian Setia Dharma, selama ini tidak diketahuinya adanya penerbit. "Tetapi setelah kami ke lapangan, jumlah penerbit di kota itu ternyata ada 10 penerbit," katanya seraya menambahkan, di Riau sendiri ternyata ada 52 lembaga yang pernah dan terus menerbitkan buku. Setia Dharma mengatakan, bagaimanapun juga kegairahan menerbitkan buku itu merupakan suatu potensi besar. Apalagi pada masa mendatang, seiringan pelaksanaan otonomi daerah akan berdampak pada semakin munculnya warna lokal dalam ranah intelektual nasional. Masalah manajemen perbukuan Yulia Himawati menambahkan, penerbit-penerbit-khususnya di luar Jawa-tidak dikenal secara nasional karena berbagai sebab. Di antaranya adalah keterbatasan dalam manajemen perbukuan. Buku-buku diterbitkan tanpa memikirkan keuntungan, bahkan tak jarang terjadi pengarang sendiri yang mengedarkan buku itu, sehingga tersebar secara terbatas. "Malah pengertian penerbit itu sendiri kadang-kadang masih rancu," kata Setia Dharma Madjid menimpali. Ia mencontohkan, sebuah penerbit di Kalimantan mengaku tidak aktif lagi menerbitkan buku karena mesin cetak mereka sudah tua, sedangkan investasi untuk itu mereka tidak sanggup. Padahal, sebuah penerbit tidak mesti memiliki percetakan sendiri. Ketua Ikapi Perwakilan Riau yang juga Kepala Penerbitan Yayasan Pusaka Riau, Syaukani al-Karim, mengatakan bahwa kurang darahnya penerbitan di daerah selama ini berkaitan dengan sistem kekuasaan yang sentralistik. Sistem ini menyebabkan semua kegiatan berpusat di Jawa, baik dalam dunia ekonomi, pendidikan, dan politik, yang juga dapat terbaca dalam sosok penerbitan. Kreativitas daerah menjadi terpasung karena tidak sempat berekspresi. Di sisi lain, Yulia Himawati mengatakan, Yayasan Adikarya Iakapin Jakarta yang bekerja sama dengan Ford Foundation berkeinginan penerbit di luar Jawa untuk ambil bagian dalam program mereka yang menyubsidi penerbitan sampai 80 persen dari biaya produksi. Dilaksanakan sejak tiga tahun lalu, kegiatan yang sudah menghasilkan sekitar 300 buku tersebut selama ini memang dimonopoli oleh penerbit dari berbagai kota di Jawa. (ti) |
|
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|