Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Republika, 19 Maret 2000

Home | News Archives


LSI IPB: Membidik Pustaka Jarak Jauh


Bila kumpulan buku-buku disusun dalam rak di sebuah ruangan besar, lalu pembaca dapat menggunakan buku-buku ini dengan mendatangi langsung tempat tersebut, perpustakaan seperti itu lazim didapati di Indonesia. Tetapi, bila ruangan tempat buku-buku itu diperluas lagi, bahkan sangat luas, hingga melingkupi sebuah kota, ini tentu tidak lazim.

Gagasan seperti inilah yang dibidik oleh Lembaga Sumberdaya Informasi (LSI) IPB. ''Bila gagasan ini terlaksana, ini mungkin yang pertama kali di Indonesia,'' jelas Wakil Ketua LSI IPB Dr Ir Khairil A. Notodiputro MS Lebih jauh lagi, gagasan ini bisa membangun gudang literatur terlengkap di Indonesia, khususnya ilmu-ilmu pertanian.

Khairil menceritakan pemikiran ini pertama kali muncul ketika beberapa ilmuwan IPB berkumpul dan berdiskusi untuk memberdayaan buku-buku yang ada di rumah masing-masing. ''Saya yakin setiap ilmuwan pasti punya koleksi buku di rumahnya. Saya saja punya satu rak penuh buku,'' ungkap Khairil.

Dan biasanya, lanjut Khaerul lagi, buku-buku yang dikoleksi ini adalah buku-buku lama atau buku-buku yang sulit diperoleh di perpustakaan umum. ''Dari pada buku-buku langka ini tidak diberdayakan dan rusak karena disimpan, lebih baik digunakan oleh orang lain yang sangat membutuhkan,'' cerita Khaerul.

Di satu sisi, ada orang yang mencari buku-buku langka yang ia sulit ia dapatkan. Sementara di pihak lain ada juga orang yang mengoleksi satu buku langka dan tak keberatan bila dipinjam orang lain, tetapi tidak tahu siapa orang yang butuh tersebut. Disinilah peran perpustakaan antar rumah. Yaitu menjembatani hubungan dua orang tersebut.

Khaerul optimis dengan gagasan tersebut. Apalagi kota Bogor adalah gudangnya para ilmuwan. Tempat berdiamnya para dosen dan peneliti. Mereka ini di data, termasuk alamat rumahnya dan literatur apa saja yang mereka punyai. Untuk literatur yang akan didaftarkan, disertakan juga tarif peminjaman per hari atau per minggu. Nilai ini ditentukan oleh si empunya buku sesuai dengan nilai literatur itu sendiri. Untuk buku-buku yang sangat langka, misalnya, nilainya mungkin lebih mahal.

Komunikasi bisa dilakukan lewat internet atau lewat telfon. Sebagai tenaga pengiriman akan menggunakan tenaga pos. Sedangkan untuk jaminan kerusakan buku, akan dilibatkan asuransi.

''Semua kemungkinan itu sudah kita bahas secara masak. Bahkan tahun ini juga sudah bisa diputuskan,'' ungkap Khaerul. Pembicaraan dengan PT Pos Indonesia juga sudah dilakukan. Mereka akan mengambil keuntungan dari banyaknya lalu lintas pengiriman buku yang menggunakan jasa mereka.

Selain membidik perpustakaan antar rumah, juga akan dicanangkan perpustakaan antar tempat kost mahasiswa yang ada di seputar LSI IPB. Untuk yang satu ini rencananya akan menggunakan sistem LAN (Local Areal Network). Areal untuk ini memang lebih kecil. Setidaknya hanya seputar kampus yang memang banyak dihuni mahasiswa.

Untuk gagasan yang satu ini, kata Khaerul, kendalanya adalah kemampuan mahasiswa menyediakan komputer yang bisa digunakan untuk itu. ''Kita tahu kemampuan mahasiswa sangat terbatas,'' ungkapnya. Namun gagasan ini tetap menjadi salah satu program yang akan diupayakan nantinya. ''Kita sudah negosiasi ke Wasantara (lembaga yang mengelola jaringan internet dan LAN LSI IPB). Cuma belum sepakat sistem apa yang akan digunakan,'' ungkap Khaerul.

Semua gambaran tersebut memang baru gagasan. Tetapi setidaknya pihak LSI IPB punya kompetensi untuk melaksanakan itu semua. Menurut Kepala UPT Perpustakaan IPB, Abdul Rahman Saleh, perpustakaan IPB pernah memperoleh predikat sebagai pelopor di bidang teknologi informasi, khususnya teknologi perpustakaan dan sering dijadikan objek studi banding oleh perpustakaan lain.

Salah satu teknologi informasi yang berhasil ditelorkannya adalah sebuah software (perangkat lunak) tentang penelusuran literatur hasil kreasi staf LSI IPB yang sudah dioperasikan oleh sekitar 65 perpustakaan di Indonesia. Jadi bukan mustahil gagasan seperti diungkapkan oleh Khaerul tadi, suatu saat akan benar-benar terujud.

Sedikit informasi soal LSI-IPB, perpustakaan yang berdiri sejak tahun 80-an ini menempati gedung seluas 10.000 meter persegi. Dari luas bangunan ini, 60 persen diantaranya digunakan untuk kegiatan perpustakaan. Sedang sisanya ditempati oleh kegiatan-kegiatan yang mendukung perpustakaan. Seperti percetakan dan audiovisual.

Di dalam gedung berlantai empat ini tersimpan empat jenis literatur. Yaitu buku-buku, majalah, skripsi atau disertasi, dan laporan. Setiap tahun total pertambahan koleksi ini rata-rata 4000 judul, dengan yang terbanyak berupa buku. Di sini juga tersimpan buku-buku lama yang sulit ditemukan oleh perpustakaan perguruan tinggi lainnya, seperti karangan Heyne berjudul De Nuttige Planten van Indonesia. Atau buku Taxonomy of Vascular Plants terbitan The MacMillan Company.

Sementara tenaga pengelolanya bermaterikan lima orang master dan 10 sarjana. Dipimpin langsung oleh pakar Ekonomi Perikanan Indonesia, Dr. Didin S Damanhuri. Di awal tahun 90-an, mereka pernah menyandang predikat sebagai perpustakaan terbaik di Indonesia. Kiranya dengan segala predikat ini, sedikit alasan bagi mereka untuk tidak mampu merealisasikan gagasan membangun perpustakaan jarak jauh sebagai contoh bagi kota-kota lain di Indonesia. (mahladi)


2000 InfoPerpus.