Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Media Indonesia, 17 Desember 2000

Home | News Archives


Komik yang Bikin Mata Mendelik


Komik impor terus membanjiri toko-toko. Di negeri asalnya komik itu diperuntukkan buat remaja atau orang dewasa. Namun, di Indonesia justru digandrungi anak-anak.

BEBERAPA anak kecil yang baru saja memasuki sebuah toko buku merasa tertarik melihat tumpukan buku berukuran kecil. Buku pelajaran? Tampaknya bukan. Karena begitu didekati buku-buku itu ternyata adalah komik produk asing.

Ketertarikan anak-anak tadi, memang tampaknya wajar saja. Jangankan dari isinya, dari tampilan luarnya pun komik-komik impor atau adaptasi itu memang membuat anak cepat tertarik untuk melihatnya. Warna-warna terang dan cerah, memang membuat mata mereka menuju ke sudut tempat buku-buku terpajang.

Seketika itu juga anak-anak berkerumun di tumpukan buku dan mengambil untuk melihat-lihat isi di dalamnya. Mereka makin tertarik setelah melihat gambar-gambar di dalamnya yang memang digambar dengan teknik cukup baik. Tak lama, beberapa dari mereka pun memutuskan untuk membelinya.

Itulah fenomena yang belakangan marak terjadi. Anak-anak begitu menyukai komik impor. Tak hanya itu, banyak pula dari mereka yang begitu tergila-gila pada komik-komik yang kebanyakan berasal dari Jepang itu.

Toh di sisi lain banyak orang tua yang merasa khawatir dengan munculnya fenomena tersebut. Lupa belajar, barangkali sudah biasa dan mungkin kini tak terlalu mencemaskan lagi. ``Tapi, kabarnya kini ada komik impor yang isinya mengandung pornografi,`` ujar seorang ibu yang tinggal di bilangan Tebet.

Bahkan menurut beberapa orang tua, ada anaknya yang meski belum bisa membaca sudah menirukan gaya-gaya nakal ala Crayon Shinchan. ``Kita khawatir kalau komik ini terus beredar di sini,`` ujar ibu tadi.

Memang hingga kini belum ada laporan yang menyebutkan secara pasti bagaimana bentuk dampak komik-komik tersebut pada anak-anak. Namun, tak ayal hasil penelitian sebuah lembaga media watch (pengawas media, red) membuat banyak orang tua merasa cemas sekaligus prihatin terhadap perkembangan tersebut.

Adalah Kelompok Pemerhati Moral Anak Bangsa, Klimaks, menyatakan bahwa dari sekian banyak komik anak-anak dari luar negeri setelah dianalisis ternyata mengandung unsur pornografi. Salah satu komik yang dianalisis Klimaks dan ditemukan memiliki unsur pornografi yang cukup banyak adalah komik Crayon Shinchan karya seniman Jepang, Yoshito Usui. ``Ini cukup memprihatinkan kita. Sebab komik ini memang dikonsumsi oleh anak-anak,`` kata Wahadiat dari Klimaks kepada Media di Jakarta, beberapa waktu silam.

Komik asal Jepang yang di Indonesia diterbitkan PT Indorestu itu--yang tak mencantumkan alamat jelasnya di buku tersebut--menceritakan perilaku seorang anak berusia 5 tahun bernama Crayon Shinchan yang amat nakal. Perilaku dan perkataannya tidak seperti teman sebayanya, bahkan sudah bertingkah laku seperti orang dewasa.

Menurut analisis yang telah dilakukan Klimaks didapatkan kenyataan bahwa karakter anak tersebut di antaranya, lucu, nakal, pembantah, tidak sopan, dan suka pada hal-hal yang porno. Contoh perilaku yang sering dilakukannya adalah suka mengintip, memperhatikan bagian tubuh wanita. Dan, banyak lagi penyimpangan perilaku yang tidak semestinya dilakukan oleh anak seusianya.

Meski lembaga tersebut meminta agar komik tersebut ditarik dari pasar, toh karena sudah banyak orang yang menyukainya, maka komik tersebut tetap beredar luas di pasaran. Bukan hanya di toko buku, berdasar pantauan Media banyak pula loper-loper koran yang ikutan memajang komik tersebut. Dan menurut pengakuan mereka memang komik tersebut laris terjual.

``Memang susah untuk menariknya. Habis kita ini juga hangat-hangat tahi ayam sih. Ketika ada yang bilang Crayon Shinchan porno, semua ribut. Tapi saya yakin sebentar lagi juga sudah adem ayem lagi,`` ujar seniman yang banyak mengamati perkembangan komik anak-anak, Arswendo Atmowiloto, yang baru saja meluncurkan komik Keluarga Cemara itu.

Menurutnya, sebenarnya di luar negeri sendiri komik memang bukan untuk konsumsi anak-anak. ``Komik impor yang beredar di sini memang kebanyakan bukan untuk konsumsi anak-anak, melainkan untuk orang dewasa. Tapi saya sendiri tidak tahu masalahnya kenapa kok di sini jadi disukai anak-anak,`` ujarnya.

Pria yang akrab disapa Wendo itu sendiri menengarai tidak adanya pihak-pihak yang memperhatikan keberadaan komik menyebabkan komik bisa dikonsumsi oleh siapa pun. ``Padahal, kalau di luar negeri yang saya lihat komik seperti Crayon Shinchan adalah komik untuk dewasa, paling tidak remaja,`` ujarnya.

Padahal, kata Wendo, komik sendiri kalau materinya disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak maka perannya jadi positif. Komik, katanya memberi pengaruh belajar membaca pada anak-anak. ``Tapi jadi kacau kalau tidak disesuaikan dengan kondisi perkembangan anak-anak. Jadi tidak keruan, seperti yang terjadi di sini sekarang. Komik untuk dewasa dibaca oleh anak-anak, eh disukai lagi,`` keluhnya.

Sementara psikolog anak, Seto Mulyadi, menyatakan keprihatinannya dengan marak beredarnya komik-komik beraroma pornografi tersebut. ``Dampak negatifnya pada anak-anak sudah jelas,`` tandasnya. Ia mengatakan dampak komik-komik tadi memang dapat langsung mempengaruhi perilaku anak-anak. ``Pengaruhnya cukup besar terhadap psikologis anak.``

Tak heran, katanya, kalau banyak anak-anak sekarang yang mampu bertingkah laku seperti orang dewasa. ``Bahkan, kalau dibiarkan anak-anak bisa meniru apa yang dilakukan dan dikatakan tokoh dalam komik tersebut,`` katanya.

Menurut Wendo jika komik-komik impor lebih disukai anak-anak karena didesain dengan konsep yang profesional. ``Ini perlu jadi perhatian seniman-seniman komik kita untuk meningkatkan kreativitasnya,`` ujar pemimpin redaksi sebuah tabloid itu.

Sementara Seto Mulyadi menyatakan bahwa kekuatan komik dari mancanegara karena mereka memproduksinya dalam bentuk multimedia. Seperti Crayon Shinchan, misalnya selain komiknya maka tokoh tersebut dapat dijumpai dalam bentuk boneka, film atau bentuk merchandise lainnya. Atau juga Dora Emon dan tokoh-tokoh lainnya. ``Bagaimana anak-anak tak cepat suka kalau `digempur` seperti itu,`` katanya.

Di sini, mungkin karena kurangnya dana maka komik-komik yang ada tak terlalu menarik penampilannya. ``Karena itu, perlu ada bantuan dari pihak-pihak yang peduli anak dan memiliki dana membantu seniman komik kita,`` harapnya.

Dari sisi materi isinya, Wendo berpendapat ada dua syarat utama sebuah komik yang baik untuk dikonsumsi anak-anak. Pertama, harus mampu menyampaikan perbedaan antara yang baik dan yang buruk. Sedangkan yang kedua, dijelaskan apakah komik tersebut masuk golongan fiksi atau nonfiksi. ``Kalau tidak memenuhi dua persyaratan, maka komik itu gagal,`` katanya.

Untuk itu, dirinya berharap komik Keluarga Cemara bisa jadi alternatif bagi anak-anak di tengah deras masuknya komik impor. ``Memang sulit karena kita cuma punya satu judul, sedangkan mereka puluhan judul. Tapi, yah kita berusahalah,`` ujarnya berharap. (EA/HP)


©2000 InfoPerpus.