Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Kompas, 17 Desember 2000

Home | News Archives


Jalan Pintas Gaya Penjual Buku Khas


ENTAH masuk ke mana yang dimaksudkan M Tahir (32), salah seorang pedagang buku di kawasan Senen, Jakarta Pusat. "Jangan di situ.... Masuklah, masuk.... Hujan.... Nanti basah," kata Tahir berkali-kali seraya terus memasukkan buku-bukunya ke dalam tempat-tempat yang berbentuk kotak dan berbungkus plastik.

Setelah terus juga disuruh masuk, akhirnya maklum juga awak bahwa masuk yang dimaksudkan Tahir adalah beringsut beberapa langkah ke muka dengan kaki tersengkang di antara tumpukan buku. "Ya, ya begitu," katanya sambil melempar senyum untuk kemudian terus mengoceh, sedangkan tangannya masih saja sibuk memindahkan buku dari satu tumpukan ke tumpukan yang lain.

Hari itu, Jakarta memang dilanda hujan bukan main setelah lebih dari setengah bulan tidak dilewati curahan air tersebut. Hanya setengah jam saja, los Tahir sudah digenangi air sampai ke mata kaki. Air yang agak hitam dan cukup sejuk pula. Tetapi Tahir tetap ketawa renyah, bahkan dikatakannya sebagai sesuatu yang amat biasa. Perkara lain, masih banyak bahkan sampai harus siap digusur segala.

Hal semacam itu justru sudah digelutinya selama 10 tahun. "Sejak tamat SMA di Jakarta Timur, inilah pekerjaan saya. Sekarang saya tinggal di sebuah rumah kontrakan di Bekasi dengan seorang istri dan dua orang anak. Sebentar lagi, saya sudah menjadi Bapak dari tiga anak," katanya bahagia.

Tahir hanya satu di antara puluhan orang yang menjual buku seperti itu di kawasan Senen, Jakarta. Ditambah dengan kota-kota lain, jumlah mereka tentu makin banyak. Bandung dan Yogyakarta, adalah contoh kota-kota yang di antara penduduknya menggantungkan nafkah dari kerja semacam itu selain di Jakarta. Lihatlah betapa bergairah mereka dengan pekerjaan tersebut seperti terlihat di Kramat Jati, Senen (Jakarta), dan Palasari (Bandung).

Mencari kerja pada sektor yang selama ini dikenal amat buram, dikaitkan dengan produksi buku secara nasional! Menerbitkan 5.000-6.000 judul buku setiap tahun, sejak krisis ekonomi melanda Indonesia, penerbitan buku paling tinggi tinggal 2.000 judul setahun. Dibandingkan dengan Malaysia saja, Indonesia jauh tertinggal; negara jiran dengan penduduk sekitar 21 juta jiwa tersebut, menerbitkan 15.000 judul buku setiap tahun.

Keburaman itu makin panjang, ketika mengetahui seluk-beluk penerbitan buku. Penerbit yang diburu-buru pajak dari berbagai sumber seperti kertas, sampai pada pembajakan buku, minat baca yang rendah, dan ketidakpedulian pemerintah, merupakan cerita lama yang senantiasa baru setiap kali membicarakan tentang produksi buku.

***

EEH, dengan kondisi semacam itu masih saja terdapat sejumlah orang yang memberi makna pada model penjualan buku ini. Galeri Buku Bengkel Deklamasi di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, yang dibina Jose Rizal Manua, memang terbilang langka, karena secara khusus menjual buku sastra maupun budaya. Secara perorangan, insan yang menjaja buku sampai masuk ke lembaga-lembaga termasuk ke kedutaan asing di Jakarta, dikerjakan seseorang yang bernama Goris. Toko buku khusus yang menjual buku-buku asing juga ditemui pada beberapa tempat.

Dengan nuansa yang agak berbeda, sebuah toko buku di Jalan A Yani, Bukittinggi, Sumatera Barat, yakni Tilas Book Shop, tak menjual buku-buku berbahasa Indonesia, tetapi buku-buku bekas berbahasa asing yang pangsa pasarnya adalah turis. Ada buku bekas berbahasa Italia, Swedia, Jerman, Jepang, Perancis, dan Cina, apalagi bahasa Inggris.

Tak mengherankan, kalau toko-toko buku khusus tersebut, juga lebih banyak dikunjungi orang-orang khusus. "Kalau mau melihat perkembangan produksi buku sastra Indonesia, tidak mungkin melupakan galeri buku Jose Rizal Manua itu," kata penyair Sutardji Calzoum Bachri, suatu waktu.

Selain Sutardji, sejumlah sastrawan tenar yang lain semacam Danarto, WS Rendra, dan Taufiq Ismail, memang selalu terlihat di galeri tersebut. Begitu juga pengamat sastra Tommy F Awuy. Tetapi tak sekali dua politikus, cendekiawan dan praktisi hukum-apalagi peneliti Indonesia dan asing antara lain A Teeuw, datang ke toko yang terletak di pojok bangunan utama TIM tersebut.

"Kalau datang ke sini, mereka pasti membeli buku. Politikus dan peneliti membeli buku tak tanggung-tanggung banyaknya," cerita Jose Rizal Manua yang mengaku bahwa galerinya dikunjungi 50-100 orang setiap hari. "Segini...," lanjutnya sambil membentang telapak tangannya sampai satu meter dari lantai.

Keberadaan toko buku khusus semacam ini, tak mustahil akan bertambah terus. Di Pekanbaru, Riau, di bawah pengelolaan Dewan Kesenian Riau (DKR), sejak dua bulan lalu, kata Ketua III DKR, Drs Al azhar MA, telah dibuka toko buku yang dinamakan Galeri Buku Ibrahim Sattah. Di sini dijual buku-buku sastra Melayu dulu dan kontemporer seperti karya-karya sastrawan di Riau, Malaysia, dan Singapura.

"Kami juga akan membuat buku khusus sastra dan budaya umumnya," kata Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat, Edi Utama. Ia sudah punya ancang-ancang untuk itu, dengan mengambil tempat di Taman Budaya Padang. Ia mulai melirik tenaga untuk itu yakni seseorang yang setidak-tidaknya mencintai sastra. "Saya kira, cerpenis Yusrizal KW, termuat untuk itu," terang Edi.

Sekadar bahan pengetahuan saja, dapat disebutkan bahwa tentulah penjualan buku di atas sekaligus dapat menerangkan sedikit contoh tentang berbagai macam cara penjualan buku. Tetapi model penjualan lain masih banyak, misalnya oleh penerbit. Untuk urusan ini, bahkan mereka lebih gesit lagi sebenarnya-sampai langsung masuk ke sekolah (lihat Kalau untuk Makan, Cukuplah... di halaman 14).

PT Delta lain lagi. Perusahaan ini secara khusus menjual buku Ensiklopedi Indonesia. Dengan jumlah tenaga penjual hampir 30 orang, mereka mendatangi calon-calon pembeli. Menurut Yulli dan Sumar dari PT Delta, mendatangi konsumen secara langsung lebih menguntungkan dibandingkan dengan memajang buku itu di toko . Pasalnya, di toko buku, penjualan tergolong statis dan tak ada kesempatan menerangkan berbagai hal mengenai buku yang dijual.

***

BUKU-buku yang dijual di kaki lima, kios, los, atau secara khusus tersebut, memang bukan buku sembarangan. Di Senen, tidak saja dijual buku-buku yang menjadi kecenderungan pasar semacam buku ekonomi dan komputer, tetapi juga buku-buku yang tergolong "keras". Katakanlah buku-buku karya Koentjaraningrat yang konon miskin peminat. Malahan, tak berlebihan dikatakan bahwa selalu ditemui buku-buku yang tidak terlihat di toko buku, tetapi terpampang gagah di tempat-tempat tersebut.

Muslimin (36), seorang pedagang buku di Bandung mengatakan, kenyataan tersebut paling jelas terasa pada masa Orde Baru yang "mengharamkan" sejumlah buku seperti Karl Max dan Pramoedya Ananta Toer. Walaupun harus berdagang sembunyi-sembunyi, buku-buku tersebut laris manis. Di TIM, saat itu, buku-buku Pramoedya senantiasa mudah ditemui yang malahan dijaja orang dari meja ke meja di warung makan yang tumbuh subur di kawasan tersebut.

"Jika Anda jeli dan betah mencari-cari, Anda mungkin mendapatkan buku-buku karya penulis terkenal seperti Anton Chekov, Victor Hugo, Maxim Gorky, atau William Shakespeare dalam bahasa asli mereka," kata cerpenis Yusrizal KW tentang buku-buku yang dijual di Tilas Book Shop, Bukittinggi.

Di Galeri Buku Bengkel Deklamasi, buku-buku tua dan khusus menempati porsi 50 persen dari total keseluruhan bukunya yang mencapai 10.000 judul. Paling tua adalah buku yang bertajuk The Secret Doctrin karya HP Blarpatsky, terbitan tahun 1897. Buku-buku bermutu lain dalam halaman cukup tebal, juga memenuhi ruangan berukuran 5 x 5 meter itu. Ada buku A Practical Sanskrit Dictionary yang terbit tahun 1954 oleh Oxford University Press, misalnya.

Buku-buku dalam bahasa Yunani di sini, ditemui dalam puluhan judul. Tidak saja merupakan karya sastra, tetapi juga menyangkut dunia akting dan filsafat. "Karya-karya lengkap Moliere dalam bahasa Perancis, juga ada," kata Jose Rizal Manua dengan muka berseri-seri, sambil menyodorkan sebuah buku tebal berwarna merah hati.

Meniru ucapan pelanggan setianya, penanggung jawab Tilas Book Shop Bukittinggi, Man, mengatakan, keunikan toko buku kecil di kawasan paling ramai dikunjungi turis mancanegara yang melancong ke Sumbar itu, ya, di situlah. "Di tempat lain tak ada, di sini ada, meski bukan merupakan buku baru lagi. Buku yang dijual di sini, sudah berpindah-pindah tangan," kata Man seraya menambahkan, buku-buku yang dijualnya beragam; ada fiksi, sains fiksi, dan religius.

Baik Jose Rizal Manua dan Al azhar mengatakan, tentu saja, buku-buku yang mereka jual jarang ditemui di toko-toko buku. Ini tidak terlepas dari ide pendirian galeri itu sendiri. "Banyak orang merasa kesulitan menemukan buku sastra dan budaya Melayu. Di sisi lain, toko-toko buku terkesan enggan menjual buku-buku tersebut. Kata mereka, pembelinya kurang. Makanya kita ambil jalan pintas, menjual sendiri buku-buku sastra dan budaya Melayu," ujar Al azhar.

"Berbeda dengan buku baru, di samping harganya mahal, penjualannya juga rumit. Sebab kita harus memelihara buku itu agar betul-betul baru, mulai dari pembungkusnya sampai kertasnya. Konsumen itu tak mau melihat buku baru itu kotor," kata Dalius (56), pedagang buku bekas di Palasari, Bandung, mengenai alasannya menjual buku bekas. Di kiosnya tanpa nama, sekitar 75 persen dari 3.000 buku koleksi Daluis adalah bekas. Konon buku bekas tak kenal musim, kapan diminati bisa langsung laku.

***

MEMPEROLEH buku-buku tua dan langka, bagi Jose Rizal Manua, memiliki cerita tersendiri. Sejak tahun 1970-an, Jose yang suka membaca sajak-sajak humor dalam berbagai kesempatan tersebut, memang suka mengejar buku-buku semacam itu. Berbagai honor dari aktivitasnya berkesenian, memang habis untuk mengejar buku-buku tersebut yang kini dapat dijualnya. "Tapi buku-buku yang sangat saya perlukan, tentu saja tidak saya jual," katanya terkekeh-kekeh.

"Buku-buku itu mengalir bagai air. Saya tak tahu datangnya dari mana. Tetapi bagi pedagang, yang penting bisa untung," kata Muslimin di Bandung, mengenai buku-buku terlarang pada zaman Orde Baru, tetapi sempat begitu banyak dijualnya. Sementara Tahir di Senen, Jakarta, mengaku bahwa ia memperoleh buku-buku dari distributor. Tak sekali dua pula diperolehnya buku-buku dari kawan seprofesi.

Tergolong unik adalah cara Tilas Book Shop memperoleh buku. Selain memang dicarinya sendiri dari berbagai sumber, buku-buku diperolehnya dari hasil tukar-menukar buku dengan turis. Oleh karena sudah selesai membaca sebuah buku, tidak jarang para turis menukarkan buku tersebut dengan buku yang sedang dijual oleh Tilas. Buku tukar tersebut dijual atau ditukar lagi dengan turis lain kalau pengunjungnya memang menghendaki demikian.

"Turis-turis ke Bukittinggi sering mampir untuk menukar bukunya dengan bacaan lain sebagai pengisi waktu mereka. Buku tersebut kita dijual lagi," kata Man, penanggung jawab toko buku yang berukuran 4 x 4 meter ini, usai melayani dua turis Jepang yang memerlukan jasanya. Ia menambahkan, toko buku tersebut berdiri, pertama-tama memang bermaksud melayani turis ke daerah nan elok ini.

Seperti diakui Tahir, Daluis, dan Muslimin, tidak jarang pula secara pribadi, ada orang yang datang menjual buku bekas kepada mereka. Istilah Daluis, mereka memperoleh buku bekas dari masyarakat. Biasanya, mereka dapat lagi menjual buku tersebut dengan harga lebih mahal. "Kadang-kadang saya menjual buku teman sesama pedagang. Untungnya paling tidak mencapai Rp 10.000 per buku," kata Tahir.

Menurut Muslimin dan Tahir, proses mendapatkan buku, khususnya kalau mau menjual buku baru, memang tidak sulit, sebab banyak penerbit yang memberi dispensasi pembayaran melalui cicilan. Ada penerbit atau distributor yang bahkan memberi kelonggaran pembayaran sampai buku mereka habis terjual. Tinggal apa lagi.... (ti/nal/zal)


2000 InfoPerpus.