Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Gamma, Nomor 34 Tahun II, 17 Oktober 2000

Home | News Archives


Berbagi Ilmu Pengetahuan


ITB memelopori gerakan perpustakaan digital yang mengglobal. Sayang, pengembangannya terhadang dana.

DENGAN satu klik, sederetan tesis pun muncul di layar komputer. Tinggal pilih tesis mana yang akan dibuka. Tidak perlu lagi ke-luar-masuk dari satu kampus ke kampus lain sekadar untuk mengetahui isi tesis atau laporan kerja di sebuah perguruan tinggi. Bahkan, Anda bisa melakukannya dari kamar pribadi asalkan seperangkat komputer plus fasilitas internet telah tersedia.

ltulah kemudahan yang ditawarkan perpustakaan digital yang dipelopori lnstitut Teknologi Bandung (ITB). Ide pembuatannya mulai muncul pada tahun 1997 karena didorong keinginan untuk internasionalisasi ITB. Baru pada tahun 1998, di tangan Dr. Onno W. Purbo, seorang pakar internet dari ITB, ide tersebut terealisasi.

Bersama beberapa anak buahnya di CNRC (Computer Network Research Group), Onno melakukan pengembangan sofiware untuk mengolah database yang bisa diakses melalui internet. Tahun berikutnya terbentuklah library networking yang dikembangkan dengan software Ganesha Digital Library (GDL) versi 1. "Sejak saat itu, sebagian besar tesis, tugas akhir, artikel, dan makalah civitas academica ITB bisa diakses melalui jaringan internet," tutur Kepala UPT Perpustakaan ITB, Dr. Robert Manurung, kepada Virtual.

lnovasi baru terus dilakukan. GDL versi 1 dikembangkan menjadi GDL versi 2, bahkan kini menjadi GDL versi 3. Dibandingkan pendahulunya, GDL versi 3 teknologinya lebih maju karena berstandar internasional, sementara GDL versi 1 dan 2 masih bersifat eksperimental dan lokal.

Pengembangannya meniru NDLTD (Network of Digital Library of Thesis and Disertasion) yang berpusat di Virginia, Amerika Serikat. Sekitar 83 perguruan tinggi terkemuka dari 12 negara tergabung dalam NDLTD tersebut. "NDLTD menggunakan sebuah standar internasional, seperti bagaimana cara orang bisa upload dan submit ke dalamnya," kata lsmail Fahmi, Ketua KMRG (Knowledge Management Research Group). Lembaga ini merupakan lembaga yang menunjang perpustakaan ITB dalam mengembangkan perpustakaan digital-nya. Saat ini di Asia baru 3 negarayang bergabung dalam NDLTD. Kedepan, ITB berencana bergabung juga.

Perpustakaan digital ITB ini ternyata mendapat tanggapan yang bagus dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dalam seminar "Digital Library Network", beberapa perguruan tinggi itu berkeinginan bergabung dalam jaringan DLN (Digital Library Network) yang berpusat di ITB. Saat ini baru Universitas Syah Kuala Banda Aceh dan Uni-versitas Muhammadiyah Malang yang telah masuk di dalamnya.

Setiap perguruan tinggi anggota Indo-nesia DLN harus mengirimkan data ten-tang penelitian, tesis, dan hasil seminardari kampus mereka setiap l-3 bulan sekali ke sentral Indonesia DLN. Lalu, Indonesia DLN mengolahnya dan menyebarkannya ke per-guruan tinggi lain yang menjadi anggota. Semua upaya itu dilakukan, kata Robert dan Ismail, tidak lebih sebagai sebuah upa-ya untuk berbagi ilmu pengetahuan.

Rencananya, Indonesia DLN akan diluncurkan ke publik pada Maret 2001, bertepatan dengan HUT ke-80 Perpustakaan ITB. Sayangnya, untuk memenuhi itu, pengelola masih terbentur pada faktor dana. Maklum, pengakses Indonesia DLN masih gratis. "Saat ini kami sedang memikirkan apakah perpustakaan digital ini akan cukup hanya didukung dana dari anggotanya saja. Mungkin nantinya kita akan mengenakan biaya setiap kali user membuka sebuah tugas akhir, seperti yang diterapkan disertation.com," ungkap Ismail.

Bayar atau gratis, terobosan perpustakaan digital ini layak disambut dan diacu-ngi jempol. "This is 24 hours library that you can bring it to your private room," kata lsmail berpromosi. You wanna try, klik saja www.digital.lib.itb.ac.id.

Wuri Hatdiastuti dan Paulus Winarto (Bandung)


©2000 InfoPerpus.