| Kontan, Edisi 3/V 9 Oktober 2000 | |
Sambil Meneliti Meraih Untung: Bisnis riset sedang naik daun |
|
Bisnis perusahaan riset ternyata cukup menggiurkan. Permintaannya terus meningkat, pemainnya belum banyak. Modal usahanya pun tak gede-gede amat. Kunci suksesnya sederhana: jaga akurasi data. Di era milenium yang serbacanggih ini, riset atau penelitian tak melulu milik profesor atau kalangan kampus. Hasil riset atau penelitian tak lagi dipandang sebagai bundelan berisi kalimat ilmiah yang menjemukan. Sekarang riset telah menjadi salah satu ajang bisnis yang cukup basah. Tak cuma kalangan dunia usaha yang membutuhkan hasil riset untuk pengembangan produk dan bisnisnya. Para politisi juga membutuhkan untuk melancarkan strategi dan kebijakan partainya. Belakangan, kalangan media massa pun menjadi salah satu pelanggan tetap hasil riset tersebut. Jelas saja perusahaan riset terus bermunculan. Habis, permintaannya besar sih. Bisnis riset memang telah menjadi ladang usaha yang menggiurkan. Modal utamanya sumber daya manusia yang mengerti seluk-beluk riset dan pengolahan data. Kalau modal uangnya, sih, tidak gede-gede amat. Lihat saja pengalaman sekelompok alumni Fisip UI angkatan 1994 yang mendirikan perusahaan riset bernama Research Community (Recom). Ketika didirikan enam bulan lalu, "Modal kami nol," ujar Rita Listiawati, salah satu peneliti Recom. Berbekal komputer milik pribadi, mereka menyewa ruangan kerja berukuran 2 x 2 m2 di perpustakaan UI. Sewa ruangan Rp 30.000 per bulan itu pun dibayar secara bergiliran di antara anggotanya. Hasilnya, Recom sudah menyabet beberapa order dengan nilai kontrak antara Rp 40 juta sampai Rp 200 juta dengan tingkat keuntungan 25%. Sedapnya berbisnis riset ini juga dinikmati Surindo (Survey Research Indonesia). Perusahaan riset lokal pertama ini didirikan tahun 1980 oleh Jackie Ambadar dengan modal Rp 1 juta. Sekarang Surindo sudah memiliki puluhan bahkan ratusan pelanggan. Mulai dari media massa, biro iklan, perbankan, asuransi, penerbangan, kosmestik, farmasi, dan consumers goods. Hasilnya, setiap bulan Surindo mengantungi omzet Rp 900 juta. Menggaet pelanggan kakap salah satu kuncinya Basahnya bisnis jasa penelitian dirasakan juga oleh Deka Marketing, salah satu perusahaan riset yang telah memiliki enam cabang. Deka saban bulan paling tidak mendapatkan 10 order penelitian. Dengan nilai kontrak berkisar antara Rp 25 juta sampai ratusan juta, setiap bulannya Deka bisa mengantungi duit sedikitnya Rp 500 juta. Selain kualitas pelayanan dan akurasi hasil penelitian, kunci sukses perusahaan riset adalah kemampuan menjaring pelanggan. Tengok saja pengalaman Recom yang dalam waktu enam bulan telah berhasil menggaet order ratusan juta. Semua itu, menurut Rita, berkat kegigihan Recom mengirim proposal ke perusahaan-perusahaan besar. "Tak lupa, kami juga gencar mengajukan proposal untuk alumni sosiologi UI," ujarnya. Kiat Deka menjaring pelanggan setali tiga uang. "Kiat kami, menggaet para kenalan," tutur Irma Malibari Putranto, pendiri dan Managing Director Deka. Selain menggaet PT Bayer, perusahaan tempat dia sebelumnya bekerja, Irma juga bisa menjaring banyak pelanggan kakap yang dikenalnya ketika bekerja di Bayer. Secara garis besar, order penelitian yang diterima perusahaan riset tersebut adalah penelitian untuk kebutuhan bisnis, seperti riset pasar dan penelitian sosial. Nah, sekarang ini order yang jatuh ke perusahaan riset kebanyakan penelitian pasar. Contohnya, ya, Deka dan Surindo. Akan halnya Recom, lebih berkonsentrasikan pada penelitian sosial. Metode riset yang dipakai masing-masing perusahaan boleh dibilang tak jauh berbeda. Umumnya penelitian tersebut dibagi menjadi penelitian kuantitatif, kualitatif, focus group discussion (FGD), dan wawancara mendalam. Penelitian dengan metode kuantitatif paling mahal ketimbang yang lainnya. Maklum, untuk penelitian jenis ini umumnya dibutuhkan jumlah re-sponden yang cukup banyak, mencapai ribuan orang. Untuk itu tentu saja dibutuhkan jumlah pewawancara atau penyebar kuesioner yang cukup banyak pula. Hampir semua perusahaan riset menggunakan tenaga kontrakan. Contohnya Deka. Untuk melakukan penelitian terhadap 1.000 orang responden, perusahaan riset ini menurunkan sekitar 400 orang pewawancara. Selain upah, biaya perbanyakan kuesioner dan pengolahan data penelitian model ini lebih besar ketimbang penelitian kualitatif. Adapun FGD dan wawancara mendalam umumnya hanya melibatkan sekelompok kecil responden. Salah satu yang harus dicermati dalam bisnis penelitian adalah soal keakuratan data. Sekali saja penelitian tak akurat, jangan harap ada pelanggan lain yang datang. "Karena itulah quality control itu harus ketat benar," ujar Irma. Pengontrolan kualitas itu dilakukan Deka dengan cara mengecek ulang sekitar 30% dari kuesioner yang masuk. Jika ada kuesioner yang salah, misalnya nomor telepon responden tidak bisa dihubungi atau alamatnya tidak jelas, kuesioner itu akan diganti. Irma mengatakan, pihaknya juga bersedia melakukan riset ulang jika si pelanggan merasa tak puas. Biaya pengulangan riset itu semuanya akan ditanggung Deka. "Tapi, itu jarang sekali terjadi," ujar Irma. Yang namanya usaha pasti ada kendala dan risiko. Asalkan risiko dan keuntungannya sebanding, mengapa tidak? |
|
©2000 InfoPerpus. |
|