Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Media Indonesia, 8 September 2000

Home | News Archives


Jadikan Perpustakaan Media Belajar


Perlu Dukungan Dunia Usaha

JAKARTA (Media): Perpustakaan hendaknya dijadikan media alternatif bagi pelaksanaan proses belajar anak usia 6-18 tahun yang rawan putus sekolah.

Pemerhati pendidikan Fuad Hassan mengatakan bahwa fungsi perpustakaan seharusnya dapat menjadi acuan sumber belajar yang efektif untuk menambah pengetahuan dan membuka peluang kerja masyarakat.

Harapan mantan menteri pendidikan itu di sampaikan saat acara peresmian Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) kemarin, di Jakarta. Hadir juga Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Yahya A Muhaimin.

Pada kesempatan itu, Fuad mengatakan perlunya dukungan dunia usaha untuk ikut serta mengembangkan perpustakaan di Indonesia yang masih tertinggal. Mereka diharapkan aktif mengembangkan keberadaan dan isi perpustakaan sehingga dapat membantu proses belajar anak usia 6-18 tahun.

Saat ini, katanya, kondisi perpustakaan secara nasional masih sangat memprihatinkan. Pasalnya, kemampuan finansial pemerintah sangat minim. ``Meski demikian, kita tidak bisa hanya menyalahkan depdiknas. Sebab keberadaan perpustakaan juga merupakan tanggung jawab bersama dari masyarakat, termasuk dunia usaha,`` katanya.

Data yang dilansir oleh pustakawan utama menunjukan bahwa kondisi perpustakaan di Indonesia sangat memprihatinkan dan tertinggal, baik dari sisi kumpulan bahan bacaan maupun sumber daya pengelolaann. Diidentifikasi dari 110 ribu sekolah di Indonesia, yang sudah mempunyai perpustakaan hanya sekitar 18% saja. Demikian pula dari 64.000 desa, ternyata yang mempunyai perpustakaan hanya 22%.

Sedangkan jumlah unit perpustakaan diberbagai departemen dan perusahaan, baru sekitar 31% dari jumlah yang diperlukan. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya perpustakaan yang belum punya standardisasi, sementara itu tenaga profesional perpustakaan masih sangat kurang. Sayangnya, pemerintah hingga saat ini belum mempunyai rincian kebutuhan nasional tenaga kepustakaan.

Menurut Fuad, dengan adanya upaya menghadirkan perpustakaan di tiap daerah, diharapkan tiga persoalan pokok masyarakat negara berkembang seperti Indonesia dapat diatasi. Ketiga persoalan itu adalah ketidaktahuan berkaitan dengan minat baca, kemiskinan, dan kesehatan.

``Ketiga persoalan pokok itu merupakan rangkaian erat. Untuk mengatasinya, perlu ikhtiar dan kerja keras memberantas ketidaktahuan seperti yang disebabkan belum melek huruf,`` katanya.

Ikhtiar yang dianggap tepat menurut Fuad, hendaknya ditujukan untuk meningkatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, terutama penduduk usia produktif yang terancam putus sekolah. Kehadiran perpustakaan dengan karakter yang jelas diharapkan dapat menjadi alternatif pembelajaran masyarakat secara praktis untuk kegiatan-kegiatan mencari peluang penghasilan.

``Peran perpustakaan sebenarnya sangat strategis, yaitu menyediakan aneka bahan pustaka yang secara individual dapat digumuli sesuai minat dan kepentingan masing-masing. Dengan demikian, fungsi perpustakaan dapat berbeda dengan wacana pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari secara klasikal di sekolah,`` katanya.

Sementara itu, Mendiknas Yahya A Muhaimin dalam kata sambutannya, mengharapkan kehadiran perpustakaan dapat membantu mencerdaskan kehidupan masyarakat dan mampu mengubah budaya lisan menjadi budaya baca atau tulis.

Peran serta dunia usaha dan masyarakat dalam pengembangan perpustakaan, katanya, akan secara otomatis mendukung program pemerintah yang sedang digalakkan depdiknas, yaitu kemampuan baca tulis anak usia sekolah dasar. ``Saya sudah mengimbau pada guru-guru SD agar anak kelas tiga dan empat diberi pelajaran mengarang sehingga dapat memanfaatkan perpustakaan swasta,`` tuturnya.

Yahya juga berharap pembangunan perpustakaan yang sedang dirintis CCFI bisa menyentuh dan dibangun berdekatan dengan lokasi sekolah. Sebab, hingga saat ini, khazanah kepustakaan sekolah masih sangat minim. ``Pengembangan sarana perpustakaan seharusnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum maupun anak sekolah. Dengan demikian, fungsi ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terpenuhi,`` katanya. (Sto/B-2)


2000 InfoPerpus.