| Kompas, 4 Desember 2000 | |
Perjuangan Hak Cipta Sastra Tidak Didasari Material |
|
Sasaran terhadap perjuangan hak cipta karya sastra yang tersebar dalam berbagai media di luar perjanjian antara sastrawan dengan penerbit tertentu, hendaknya bukan didasari oleh hal-hal yang berbau material. Perjuangan itu mestinya lebih disebabkan suatu upaya untuk memberikan penghargaan intelektual kepada sastrawan dan ahli warisnya, di samping memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang bagaimana menghormati karya intelektual itu sendiri.Demikian pandangan Evawani Alissa Ch Anwar, ahli waris sastrawan terkemuka Chairil Anwar, dalam perbincangan dengan Kompas, Sabtu (2/12), di Jakarta. Dia dimintai komentarnya tentang pendapat sastrawan Taufiq Ismail dan staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia Maman S Mahayana mengenai perlunya perjuangan hak cipta karya sastra. Meskipun berupa pengamatan, kata Taufiq dan Maman senada, tak ayal lagi bahwa karya sastra senantiasa dikutip dalam berbagai kesempatan. "Dalam buku pelajaran, bahkan tulisan mengenai sastra, karya sastrawan tertentu dikutip. Apalagi dalam pembacaan sajak atau lomba-lomba baca sajak yang amat sering dilakukan di berbagai kota. Hak cipta untuk karya-karya tersebut seharusnya dikeluarkan," kata Maman. (Kompas, 2/12) Menurut Evawani, pihaknya memang pernah beberapa kali menerima royalti hak cipta, antara lain, dari Kantata Revolver karena sajak Chairil Anwar yang berjudul Diponegoro dilagukan. Begitu juga dari Yayasan Indonesia dan majalah sastra Horison yang bulan lalu menyertakan sajak Chairil dalam acara "Siswa Bertanya, Sastrawan Bicara". Selain itu, dari sejumlah penerbitan buku karya-karya almarhum. "Cuma, saya yakin, banyak lagi hak cipta almarhum ayah saya yang diabaikan, misalnya dalam penyiaran sajak-sajaknya pada buku pelajaran-apalagi dibacakan dalam berbagai lomba," kata Evawani seraya menambahkan, pihaknya akan sangat merasa bahagia manakala penyiaran sajak-sajak Chairil Anwar diberitahukan kepada pihaknya walaupun tanpa imbalan uang. Menurut catatan Kompas, Evawani baru berumur setahun 10 bulan ketika Chairil Anwar berpulang ke rahmatullah pada 28 April 1949. Dia sendiri pertama kali mengetahui Chairil adalah ayahnya ketika duduk di kelas tiga Sekolah Rakyat Latihan, Manggarai, tahun 1955. Sebelumnya, ia cuma tahu bahwa ayahnya adalah Achmad Natakusumah yang ternyata adalah suami kedua mamanya, Hapsah Wiriaredja (1922-1978). Satu-satunya barang peninggalan Chairil kepada Eva adalah sebuah radio kecil berwarna cokelat. Tidak mudah Evawani yang kini menekuni profesi sebagai notaris menyadari, perjuangan hak cipta karya sastra memang tidak mudah. Bukan saja karena perjuangannya memiliki berbagai prosedur hukum dan masalah teknis, tetapi juga memang disebabkan masih kurangnya penghargaan masyarakat terhadap karya sastra. Di sisi lain, sastrawan terkesan acuh tak acuh pula terhadap hak ciptanya. "Hanya saja, kita semua menyadari bahwa karya sastra itu penting dalam kehidupan dan di dalamnya ada hak yang harus diperjuangkan, yakni hak cipta," kata Evawani. Dia menambahkan, dengan perjuangan itu, masyarakat diberi pemahaman bagaimana menghormati karya intelektual, sehingga sedikit banyak ikut memberi kesan positif pada karya sastra. Kesan tersebut diharapkan mampu menggairahkan alam penciptaan intelektual. Penyebab tidak mudah yang lain, kata Evawani yang sejak dua tahun terakhir mulai kerap muncul di berbagai acara sastra, adalah perangkat gerakan untuk memperjuangkan hak cipta tersebut. Untuk perjuangan ini, misalnya, diperlukan sebuah lembaga yang memiliki legitimasi dari pemerintah dan lembaga-lembaga lain, baik di Indonesia maupun di luar negeri. "Di samping itu, diperlukan pula kesiapan sumber daya manusia, misalnya di bidang hukum dan kemampuan menajerial," kata Evawani. Evawani mengatakan, melihat dari penampilan sastrawan mutakhir, ketidakmudahan tersebut seharusnya tidak menjadi penghalang bagi perjuangan hak cipta tersebut. Di kalangan sastrawan sendiri bahkan banyak yang sarjana hukum, sebutlah seperti pengacara terkenal Todung Mulya Lubis. "Saya sebagai ahli waris salah seorang sastrawan yang juga notaris siap membantu kalau memang diminta," katanya. (ti) |
|
©2000 InfoPerpus. Any request? Please send to: librarian@infoperpus.8m.com |
|