| Suara Karya, 4 September 2000 | |
Perguruan Tinggi Dan Perpustakaan |
|
Dewasa ini perkembangan perpustakaan di Indonesia dapat dikatakan berjalan lebih cepat dibanding dasa warsa yang lalu, seiring dengan meningkatnya kesadaran berbagai pihak akan pentingnya perpustakaan. Bahkan di lingkup perguruan tinggi sering didengar ungkapan yang menyebut perpustakaan adalah jantungnya perguruan tinggi. Sayangnya masih juga dijumpai kehidupan perpustakaaan perguruan tinggi yang terkesan hidup seadanya, karena masih terbatasnya perhatian civitas akademika terhadap perpustakaannya, termasuk di dalamnya pustakawan perguruan tinggi sendiri. Keterbatasan perhatian ini mungkin salah satu penyebabnya adalah masih adanya perbedaan persepsi tentang perpustakaan di antara pustakawan, dosen, dan pimpinan pengelola perguruan tinggi. Perbedaan persepsi ini dimungkinkan karena belum ada atau tidak adanya komunikasi di antara mereka. Komunikasi yang dimaksud di sini lebih diartikan komunikasi kedinasan-- yang diharapkan dapat menghasilkan interaksi positif antara unit kerja di perguruan tinggi. Dengan demikian, beda persepsi ini tentunya dapat diatasi apabila terdapat komunikasi kedinasan yang benar di antara mereka, khususnya dalam pengelolaan perpustakaan. Komunikasi kedinasan dapat dilaksanakan melalui berbagai bentuk. Salah satunya berupa perencanaan perpustakaan. Pada kenyataannya, belum semua perguruan tinggi memiliki perencanaan perpustakaan yang benar. Padahal seperti diketahui umum, perpustakaan perguruan tinggi merupakan salah satu jenis perpustakaan yang sudah dianggap lebih maju dibanding-kan jenis perpustakaan lain, seperti perpustakaan sekolah dan umum. Lebih maju disini, maksudnya dalam kesiapan SDM, koleksi, sarana-prasarana dan sistem manajemennya. Untuk itu, perpustakaan Nasional RI sebagai instansi pembina seluruh jenis perpustakaan di Indonesia tengah melakukan pendekatan kemitraan dalam hal pembinaan perpustakaan. Mereka diberi kebebasan dalam meningkatkan layanannya dengan cara menjalin kerjasama satu sama lain, sedangkan perpustakaan Nasional RI cukup bertindak sebagai fasilitator sejauh yang dapat diberikan. Guna realisasikannya, baru-baru ini telah terbentuk Forum Komunikasi untuk menjembatani kinerja perpustakaan perguruan tinggi. Perencanaan Strategis Berkaitan dengan perencanaan perpustakaan, adabeberapa pertanyaan mendasar yang perlu dijawab sebelum dilaksanakan. Pertanyaan tersebut antara lain, apakah perpustakaan sudah memiliki rencana pengembangan? Bila jawabannya sudah, apakah rencana tersebut merupakan bagian dari rencana induk pengembangan suatu perguruan tinggi? Pertanyaan terpenting sebenarnya, apakah pustakawan sudah mampu melaksanakan perencanaan tersebut? Meski sudah mampu melakukan perencanaan perpustakaan perguruan tinggi, khususnya perencanaan strategisnya. Ternyata tugas itu banyak hanya dikerjakan sendiri oleh pustakawan. Kolaborasi antara pustakawan dengan dosen dan pengelola perguruan tinggi terlihat tidak menjadi keharusan. Menurut Blasius Sudarsono, MLS, Pakar Perpustakaan dari PDII-LIPI, perencanaan perpustakaan sebenarnya mencakup pengertian yang lebih luas, mulai dari perencanaan untuk membangun perpustakaan baru, perencanaan dalam melaksanakan tugas harian, sampai pada perencanaan pembinaan dan pengembangannya. Awal dari berbagai jenis perencanaan tersebut adalah perencanaan yang sekarang lazim disebut sebagai perencanaan strategis. Disebut sebagai awal, karena jenis perencanaan lainnya diturunkan atau dijabarkan dari rencana strategis yang sudah ada. Beberapa literatur manajemen menyebut perencanaan strategis adalah setiap perencanaan yang memusatkan perhatian pada masa depan dan bersifat jangka panjang. Di Amerika perpustakaan perguruan tinggi mulai menerapkan perencanaan strategis sejak dasa warsa tahun 80-an. Sebagai contoh California State University (1985), Iowa State University of Science and Technology (1989), North Carolina State University (1985), Michigan State University (1988), University of Colorado (1988), dan Pennsylvania State University (1989). Lalu bagaimanakah keadaan di Indonesia? Rasanya belum banyak perpustakaan yang mempraktikkan perencanaan strategis. Hal ini menjadi satu temuan dari USAID tentang perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia. Konsepsi perencanaan strategis bersumber dari strategi di bidang militer, yang merupakan rencana untuk keberhasilan suatu perang. Strategi dikembangkan berdasar pada perhitungan-perhitungan, dan sangat terkait dengan atau terpengaruh oleh gerakan musuh. Dibedakan antara strategi dan tak-tik. Strategi merupakan rencana tentang ke mana dan bagaimana harus berperang, sedang tak-tik merupakan jabaran lebih rinci dari strategi, menyatakan bagaimana harus bertempur. Perencanaan strategis merupakan proses yang memakan waktu, tetapi perpustakaan harus membuat perencanaan ini. Perencanaan strategis ini dapat membantu perpustakaan dalam mendayagunakan seoptimal mungkin sarana yang sudah dimiliki. Selain itu, perpustakaan harus memikirkan kembali peran dan jasa yang diberikannya, apabila perpustakaan itu ingin tetap hidup dan berhasil dalam situasi yang selalu berubah. Bagi suatu perpustakaan, perencanaan strategis memusatkan perhatiannya kepada visi tentang perpustakaan yang diidamkan. Rencana strategi terdiri atas beberapa bagian yaitu pernyataan visi (pandangan), misi (tugas) tujuan, sasaran dan rencana aksi. Namun, visi, misi, dan tujuan haruslah sesuai dengan visi, misi dan tujuan lembaga induknya. Perubahan Kebijakan Setelah perpustakaan berhasil merumuskan pernyataan misi, tujuan dan sasaran, selanjutnya adalah kegiatan untuk meninjau kebijakan dan prosedur yang dimiliki oleh perpustakaan dan lembaga induknya. Apabila kebijakan lembaga induk tidak sesuai yang diperlukan perpustakaan maka perlu dicari kemungkinan apakah kebijakan itu dapat diubah ataupun disesuaikan dalam waktu dekat. Dalam lima tahun terakhir ini, minimal dapat dicatat dua kali studi perpustakaan perguruan tinggi telah dilaksanakan di Indonesia. Studi yang pernah dilakukan The British Council dalam rangka International Library and Information Action for Development (ILIAD). Dalam studi ini dibentuk tugas kerja inti yang terdiri dari empat orang yang mewakili pa, Kabupaten Maluku Tengah. Tim SAR yang melakukan pencarian, sampai Minggu baru menemukan erpustakaan universitas, konsultan perpustakaan, ahli ekonomi, dan peneliti dari Depdikbud. Gugus kerja inti ini bersama dua fasilitator dari British Council-London, dan British Council-Jakarta bekerja mengidentifikasi permasalahan-permasalahan pokok dari perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia. Hasil identifikasi ini dibahas dalam dua kali seminar yang dihadiri ahli perpustakaan dan pihak lain yang terkait dengan pembinaan dan pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia. Jadi, idealnya perpustakaan perguruan tinggi akan maju kalau sudah mempunyai perencanaan strategis yang sejalan dengan lembaga induknya. Walaupun lembaga induknya belum mempunyai rencana strategis, perpustakaan tetap harus tetap menyusunnya dan mengkomunikasikan kepada pihak pimpinan perguruan tinggi. Agar berhasil rencana tersebut, perpustakaan hendaknya menjadi bagian dari proses informasi dan pengambilan keputusan dalam organisasi induknya. Semakin jauh dari proses tersebut akan semakin sukar bagi perkembangan perpustakaan. Dengan sendirinya, perpustakaan perguruan tinggi harus berusaha agar terjadi hubungan dan komunikasi yang baik dengan pihak pimpinan perguruan tinggi, sehingga perpustakaan perguruan tinggi selalu terlibat dalam setiap kegiatan penting di lingkungan akademika. Maka kesan "dianaktirikan" dapat dikesampingkan. Pustakawan mari berprestasi!! (Agus Sutoyo, Humas Perpustakaan Nasional RI) |
|
©2000 InfoPerpus. |
|