Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Jawa Pos, 3 September 2000

Home | News Archives


Pustaka Gus Dur di New York


NEW YORK-Perwakilan Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York berhasil merealisasikan gawe besar. Apa itu? Mendirikan perpustakaan umum mengenai HAM, hukum, lingkungan hidup, dan kajian-kajian lain di New York.

Perpustakaan ini didirikan di lantai 1 gedung PTRI yang memiliki 7 lantai, beralamat di 325 East 38th Street, New York, NY,10016. Yang menarik, perpustakaan tersebut diberi nama KH Abdurrahman Wahid Library.

Wartawan Jawa Pos di Washington DC Ramadhan Pohan melaporkan, perpustakaan tersebut sudah memiliki lima ribu buku. Menurut Wakil Tetap RI untuk PBB Dubes Dr Makarim Wibisono, jumlah itu akan bertambah terus pada masa mendatang.

Apalagi perpustakaan itu masih belum diresmikan. Menurut rencana, penandatanganan prasasti perpustakaan ini akan dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid yang akan berada di New York untuk menghadiri pertemuan para pemimpin dunia di PBB.

Dubes Makarim mengungkapkan, pendirian perpustakaan tersebut sangat berkait dengan upaya misi diplomasi luar negeri RI. Disebutkan bahwa gagasan pendirian perpustakaan itu sduah lama. Yakni, sejak ia menjadi orang nomor satu di PTRI New York, 1997.

Kenapa perpustakaan itu mengambil nama Gus Dur? Rupanya, PTRI mempunyai pertimbangan khusus yang cukup menarik di situ. Ini berawal dari seringnya Dubes Makarim menemani Presiden Wahid bertemu dengan berbagai pemimpin dunia dalam berbagai kesempatan di mancanegara.

Rupanya, banyak kalangan pemimpin dan pejabat internasional yang terkesan dengan Presiden Wahid. Misalnya, pengetahuan dan penguasaan Gus Dur tentang sastra, tradisi, budaya, sejarah, pemikir, dan pemikiran berbagai negara. Mitra Indonesia dan pemimpin mancanegara acap salut atas penguasaan Gus Dur mengenai negara-negara mitra tersebut.

Di mata kalangan pemimpin atau pejabat asing, Gus Dur memang kuat bacaan dunianya. ''Mereka terkesan dengan khazanah dan perbendaharaan presiden RI. Kesan mereka satu, Gus Dur itu sejak masa muda pasti kuat membaca. Jadi, dia pasti kutu buku,'' paparnya.

Karena itulah, menurut Makarim Wibisono, ketika Presiden Wahid bertemu pemimpin-pemimpin negara lain, ada semacam persentuhan pemikiran dan meeting of mind. Soalnya, yang mereka bicarakan selalu berdekatan dengan pemikiran-pemikiran yang berkembang.

''Jadi, kita menggunakan nama KH Abdurrahman Wahid Library untuk mengingatkan bahwa rajin membaca akan mengembangkan horizon dan cakrawala. Dan, ini berarti meningkatkan kapasitas kita untuk mewakili Indonesia di dalam kancah global ini,'' jelas Makarim, diplomat senior Deplu RI ini.

Buku-buku yang dihadirkan perpustakaan tersebut lebih bersifat kajian universal, lintas negara, dan sebagian besar berbahasa Inggris. Tetapi, masyarakat atau mahasiswa Indonesia di AS masih bisa mendapatkan bacaan berbahasa Indonesia, termasuk mendapatkan kliping majalah dan koran dari tanah air.

''Ada Indonesian Corner, yang menyediakan buku-buku dan bacaan mengenai Indonesia yang ditulis orang-orang asing maupun orang Indonesia. Ada juga buku-buku referensi,'' timpalnya.

Dubes Makarim yang juga memimpin salah satu badan bergengsi di PBB -menjadi presiden Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC)- itu sangat berambisi menjadikan KH Abdurrahman Wahid Library tersebut betul-betul bergengsi. ''Dilengkapi akses digital information, internet. Jadi, kita mempunyai (alat baca) yang tradisional dan juga akses modern seperti internet. Saya mempunyai prioritas utuk teknologi informasi,'' katanya.

Perpustakaan ini juga dimaksudkan sebagai pusat data base diplomat Indonesia di AS dan diplomat asing, kalangan pers AS, maupun pengusaha. ''Kita ingin menyediakan bacaan yang memadai bagi para wartawan, diplomat, dan siapa saja. Pokoknya, multipurpose-lah. Bahasanya beragam karena kita ingin mencakup luas,'' ujarnya.


©2000 InfoPerpus.